Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menanjak pada perdagangan Senin ditopang banyaknya kabar positif.
Harga batu bara pada perdagangan Senin (17/8/2026) ditutup di posisi US$134,05 per ton. Harganya menguat 0,34%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya melandai 0,36%.
Kenaikan harga batu bara ditopang oleh menguatnya harga minyak serta banyaknya kabar positif.
Harga batu bara termal di sejumlah wilayah produksi utama China kembali naik sebesar CNY 5-10 per ton kemarin.
Penguatan ini terjadi karena inspeksi keselamatan yang semakin ketat dan aktivitas pengisian kembali stok oleh konsumen hilir yang terus berlangsung, sehingga sentimen bullish masih mendominasi pasar di tingkat tambang.
Dari 117 tambang batu bara yang disurvei Sxcoal pada 17 Agustus, sebanyak 20 tambang menaikkan harga rata-rata CNY15,1 per ton, sementara tidak ada tambang yang menurunkan harga. Sebanyak 97 tambang lainnya mempertahankan harga tetap stabil.
Upaya China memperketat keselamatan tambang membuat sejumlah tambang di sentra utama batu bara termal belum dapat kembali beroperasi pada kapasitas penuh.
Dikutip dari Sxcoal, seorang penambang di Yulin, Shaanxi, mengatakan bahwa inspeksi keselamatan memang berdampak terhadap sentimen pasar karena para penambang tidak berani meningkatkan produksi secara berlebihan.
Pasokan Batu Bara di China Semakin Tertekan
Pasokan batu bara di Yulin menghadapi tekanan baru. Sxcoal melaporkan bahwa 112 fasilitas pencucian batu bara di Distrik Yuyang diperintahkan menghentikan operasional untuk melakukan inspeksi mandiri sejak 13 Agustus.
Operasional baru dapat dilanjutkan setelah fasilitas tersebut lolos verifikasi, yang diperkirakan berlangsung hingga pertengahan September. Kebijakan ini semakin memperketat pasokan batu bara di wilayah tersebut.
Selain itu, kecelakaan akibat semburan gas di sebuah tambang di Hunan yang menyebabkan tujuh orang hilang diperkirakan akan mendorong pengetatan standar keselamatan lebih lanjut. Kondisi ini membuat lebih banyak penambang memilih mempertahankan harga batu bara.
Pembatasan pasokan terjadi ketika permintaan dari sektor hilir masih cukup baik. Topan dan hujan lokal dalam jangka pendek diperkirakan tidak banyak mengganggu cuaca panas pada fase akhir musim panas di China.
Cuaca panas dan lembap diperkirakan meluas di wilayah China tengah, timur, dan selatan pekan ini, dengan suhu maksimum mencapai 33-35 derajat Celsius. Kondisi tersebut berpotensi menjaga konsumsi listrik tetap tinggi dan mendukung permintaan batu bara untuk pembangkit listrik.
Stok batu bara di pembangkit listrik yang berada di bawah enam kelompok pembangkit listrik pesisir utama China mencapai 14,08 juta ton per 14 Agustus. Angka tersebut turun 0,72% secara mingguan dan 2,67% dibandingkan sebulan sebelumnya.
Aktivitas restocking atau pengisian kembali stok masih berlangsung untuk memenuhi konsumsi yang meningkat akibat cuaca panas. Pengiriman berdasarkan kontrak jangka panjang yang tetap berjalan juga membantu menopang penjualan batu bara dari tambang.
Sementara itu, pabrik kokas dan kimia terus mengamankan batu bara berkualitas tinggi dengan nilai kalori tinggi (high-CV) untuk memenuhi kebutuhan utama mereka. Para pedagang yang beroperasi di stasiun kereta api juga tercatat aktif melakukan transaksi.
Belanda Tingkatkan Produksi Listrik Batu Bara
Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Belanda kini menghasilkan listrik pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah tingginya harga energi dan melonjaknya permintaan listrik dari negara tetangga.
Stasiun penyiaran Belanda NOS melaporkan, berdasarkan data National Energy Dashboard, pembangkit listrik batu bara di Belanda sepanjang 2026 bahkan telah menghasilkan listrik lebih banyak dibandingkan total produksi selama 2024.
Produksi hingga 14 Agustus 2026 memang masih berada di bawah total produksi sepanjang 2025. Namun, angka tersebut diperkirakan juga akan segera terlampaui.
Tingkat operasi PLTU batu bara yang setinggi ini terakhir terjadi saat krisis gas 2022, ketika perang Rusia-Ukraina membuat harga gas melonjak tajam.
Situasi serupa kembali muncul di tengah perang Iran, meskipun biaya atau pungutan emisi CO2 untuk penggunaan batu bara kini lebih tinggi.
Peningkatan pembangkitan listrik dari batu bara terutama didorong oleh tingginya harga energi serta lonjakan permintaan listrik dari negara tetangga, khususnya Belgia.
"PLTU batu bara juga turun tangan karena permintaan listrik dari luar negeri meningkat. Kami mengekspor banyak listrik ke luar negeri," ujar Martien Visser, dosen emeritus bidang transisi energi di Hanze University of Applied Sciences Groningen, dikutip dari NL Times.
Belgia Kekurangan Listrik
Belgia menjadi salah satu pendorong utama peningkatan produksi listrik Belanda. Sepanjang paruh pertama tahun ini, Belgia harus mengimpor sebagian besar kebutuhan listriknya karena dua pembangkit listrik tenaga nuklir besar sedang menjalani pemeliharaan.
Kondisi tersebut membuat Belanda meningkatkan pasokan listrik ke negara tetangganya.
Menariknya, Visser menilai peningkatan penggunaan PLTU batu bara tidak selalu menjadi kabar buruk. Ia mengacu pada kesepakatan Eropa mengenai total emisi, yang memungkinkan kenaikan emisi di satu negara diimbangi dengan penurunan emisi di negara lain.
Dengan demikian, peningkatan pembangkitan listrik berbasis batu bara di Belanda belum tentu berarti emisi Eropa secara keseluruhan meningkat dalam jumlah yang sama.
Visser bahkan melihat penggunaan batu bara sebagai peluang untuk menghemat cadangan gas alam Belanda.
"Dengan menggunakan PLTU batu bara, kami menghemat 60 juta meter kubik gas setiap pekan. Gas tersebut bisa digunakan untuk mengisi kembali cadangan gas kami," ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana krisis pasokan dan harga energi kembali mengubah bauran energi Eropa. Meskipun batu bara merupakan salah satu sumber listrik dengan emisi tertinggi dan penggunaannya terus ditekan dalam agenda transisi energi, lonjakan harga gas dan kebutuhan menjaga pasokan listrik membuat pembangkit batu bara kembali memainkan peran penting.
Trump Siapkan Dana Rp6,7 Triliun untuk Hidupkan Lagi Batu Bara AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersiap menggunakan kewenangan era Perang Dingin untuk menggelontorkan ratusan juta dolar dana pemerintah guna menopang pembangkit listrik tenaga batu bara sekaligus ekspor batu bara AS.
Trump diperkirakan mengumumkan kebijakan tersebut dalam acara di Gedung Putih pada Kamis waktu setempat. Pemerintah AS akan menggunakan kewenangan berdasarkan Defense Production Act (DPA) 1950, menurut pejabat Gedung Putih yang mengetahui rencana tersebut.
Sejumlah anggota parlemen dan gubernur dari negara bagian penghasil batu bara, termasuk Wyoming dan West Virginia, telah diundang ke Gedung Putih.
Dalam rencana tersebut, pemerintah Trump akan menyalurkan sekitar US$425 juta atau sekitar Rp6,7 triliun dana DPA untuk mendukung 13 pembangkit listrik batu bara yang sudah beroperasi.
Dana tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan atau memperbarui fasilitas pembangkit. Pembangkit yang menjadi penerima dana tersebar di West Virginia, Kentucky, North Carolina, Indiana, Tennessee, Arkansas, Arizona, Oklahoma, North Dakota dan Wisconsin.
Selain itu, Departemen Energi AS akan memberikan hibah untuk membantu pembangunan dua pembangkit batu bara baru di Alaska dan West Virginia.
Pemerintah juga menyiapkan tambahan US$75 juta melalui DPA untuk proyek terminal ekspor batu bara West Gateway di Oakland, California. Terminal tersebut berpotensi membuka jalur ekspor hingga 12 juta ton batu bara per tahun dari Wyoming, Montana dan negara bagian AS lainnya ke pasar luar negeri.
Kebijakan ini menjadi langkah terbaru Trump untuk menghidupkan kembali industri batu bara AS, baik sebagai sumber listrik maupun komoditas ekspor.
Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump secara agresif mendorong agenda dominasi energi AS yang bertumpu pada peningkatan produksi, konsumsi dan ekspor minyak, gas alam serta batu bara.
Departemen Energi AS bahkan telah mengeluarkan perintah darurat yang meminta sejumlah pembangkit batu bara tetap beroperasi meski sebelumnya dijadwalkan ditutup. Pemerintah beralasan pembangkit tersebut diperlukan untuk menjaga keandalan jaringan listrik nasional.
Departemen Dalam Negeri AS juga bergerak membuka lebih banyak lahan federal untuk aktivitas pertambangan batu bara di North Dakota, Montana dan Wyoming.
Trump juga mengarahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk membuat kesepakatan pembelian listrik dari pembangkit batu bara guna memenuhi kebutuhan operasi militer.
(mae/mae)

3 hours ago
2















































