Salma Laiqa, CNBC Indonesia
22 September 2026 16:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan iklim kini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga risiko ekonomi dan keuangan.
Bagi industri perbankan, perubahan pola cuaca, regulasi emisi, hingga pergeseran teknologi dapat memengaruhi kemampuan debitur membayar kewajibannya.
Karena itu, pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance) semakin menjadi bagian dari strategi bisnis bank.
Melalui penyaluran kredit hijau (green financing) dan pembiayaan sosial (social financing), bank tidak hanya berperan sebagai penyedia modal, tetapi juga sebagai pengarah alokasi dana menuju ekonomi rendah karbon.
Di Indonesia, empat bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Syariah Indonesia (BSI), telah membangun portofolio pembiayaan berkelanjutan hingga ratusan triliun rupiah.
Namun, pembiayaan berkelanjutan tidak selalu berarti pembiayaan hijau. Portofolio tersebut juga mencakup aspek sosial seperti pembiayaan UMKM, inklusi keuangan, dan perumahan terjangkau.
Apa Bedanya Sustainable Financing dan Green Financing?
Secara sederhana, green financing merupakan pembiayaan yang secara langsung mendukung aktivitas dengan manfaat lingkungan, seperti energi terbarukan, efisiensi energi, kendaraan listrik, atau pengelolaan limbah.
Sementara itu, sustainable financing memiliki cakupan lebih luas karena mencakup aspek lingkungan dan sosial.
Di Indonesia, pendekatan tersebut mengacu pada kerangka Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui keuangan berkelanjutan, sementara secara global bank juga banyak menggunakan standar seperti Green Bond Principles dari International Capital Market Association (ICMA), Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD), serta Partnership for Carbon Accounting Financials (PCAF).
Kerangka tersebut digunakan untuk membantu bank mengklasifikasikan aktivitas hijau, mengungkap risiko iklim, hingga mengukur emisi yang berasal dari aktivitas pembiayaan (financed emissions).
Implementasi sustainable finance di setiap bank Himbara memiliki dampak yang berbeda, mengikuti model bisnis dan sektor yang menjadi fokus pembiayaan masing-masing.
BRI: Dorong Pembiayaan Sosial Lewat UMKM
Sebagai bank yang fokus pada segmen mikro dan UMKM, strategi keberlanjutan BRI memiliki porsi besar pada pembiayaan sosial. Pada 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan BRI mencapai Rp811,9 triliun, terdiri dari Rp718,7 triliun pembiayaan sosial (KUBS) dan Rp93,2 triliun pembiayaan lingkungan (KUBL).
Pembiayaan tersebut didukung oleh program penguatan ekosistem UMKM seperti Desa BRILiaN, Klasterku Hidupku, dan LinkUMKM yang telah menjangkau lebih dari 14,95 juta UMKM. BRI juga menyalurkan relaksasi KUR senilai Rp43,95 triliun kepada lebih dari 1 juta debitur terdampak bencana.
Selain pembiayaan, BRI juga mencatat investasi berbasis ESG sebesar Rp5,26 triliun melalui instrumen seperti green bond, social bond, dan sustainability bond.
Bank Mandiri: Perbesar Pembiayaan Hijau
Bank Mandiri menjadi salah satu bank Himbara dengan porsi pembiayaan hijau terbesar.
Portofolio sustainable financing Mandiri mencapai Rp315,8 triliun, dengan pembiayaan hijau sekitar Rp166,2 triliun.
Pembiayaan tersebut diarahkan ke berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, transportasi rendah karbon, hingga pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Di sektor transportasi hijau, pembiayaan mencakup pengembangan ekosistem kendaraan listrik seperti electric bus dan electric rail train, serta proyek sistem penyediaan air minum.
Selain melalui kredit, Mandiri juga menggunakan instrumen pasar modal seperti green bond dan sustainability bond untuk mendukung proyek-proyek berkelanjutan.
BNI: Biayai Transportasi Hijau hingga Waste to Energy
BNI menjadi salah satu bank yang aktif mengembangkan pembiayaan hijau melalui instrumen seperti green bond.
Pada 2022, BNI menerbitkan Green Bond senilai Rp5 triliun yang dialokasikan untuk proyek-proyek dalam kategori hijau sesuai Green Bond Framework perseroan.
Dana tersebut mengalir ke sejumlah sektor, mulai dari transportasi berkelanjutan, energi terbarukan, waste to energy dan pengelolaan limbah, hingga green building.
Pada Green Bond Series A senilai Rp4 triliun, sektor transportasi berkelanjutan menjadi penerima terbesar dengan alokasi Rp3,03 triliun atau 75,7%, termasuk untuk proyek LRT Jabodebek.
Selain itu, BNI juga membiayai proyek energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga air, surya, mini-hidro, dan tenaga angin, serta proyek penggunaan sumber daya alam dan lahan yang berkelanjutan.
BSI: Kembangkan Pembiayaan Hijau Berbasis Syariah
Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI mengembangkan pembiayaan berkelanjutan dengan menggabungkan aspek lingkungan dan sosial.
Pada 2025, pembiayaan dalam kategori kegiatan usaha berkelanjutan (KKUB) BSI mencapai Rp73,92 triliun, dengan porsi terbesar berasal dari pembiayaan sosial sebesar Rp58,26 triliun.
Dari sisi lingkungan, BSI menyalurkan pembiayaan hijau sebesar Rp15,66 triliun ke sektor prioritas seperti energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, dan pembiayaan rumah terjangkau.
Sementara pada aspek sosial, BSI memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui program seperti Desa BSI, Sentra UMKM BSI, portal UMKM, dan Salam Digital untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro.
Sustainable Finance Jadi Bagian dari Manajemen Risiko
Meningkatnya pembiayaan berkelanjutan tidak hanya didorong oleh agenda lingkungan, tetapi juga perubahan cara sektor keuangan melihat risiko bisnis.
Bagi perbankan, risiko ESG dapat memengaruhi kualitas aset melalui berbagai jalur. Risiko fisik (physical risk) seperti banjir, kekeringan, atau cuaca ekstrem dapat mengganggu operasional debitur. Sementara risiko transisi (transition risk) muncul ketika perubahan regulasi, teknologi, dan preferensi pasar memengaruhi model bisnis perusahaan.
Kondisi tersebut membuat bank mulai memasukkan faktor keberlanjutan dalam proses pengambilan keputusan kredit. Pembiayaan kepada sektor yang lebih siap menghadapi transisi rendah karbon dinilai dapat membantu bank menjaga kualitas portofolio dalam jangka panjang.
Riset Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan bahwa faktor emisi mulai tercermin dalam biaya kredit perusahaan.
Studi tersebut menemukan perusahaan dengan intensitas emisi karbon lebih tinggi cenderung menghadapi biaya pinjaman yang lebih besar, sementara perusahaan dengan komitmen pengurangan emisi dapat memperoleh biaya kredit yang lebih rendah.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sustainable finance tidak hanya berkaitan dengan dampak lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi bank dalam mengelola risiko kredit.
ESG Risk Mulai Diperhitungkan Investor
Selain melalui pembiayaan, pengelolaan risiko ESG juga semakin menjadi perhatian investor dan pasar modal.
Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai risiko tersebut adalah ESG Risk Rating Sustainalytics, yang mengukur tingkat risiko ESG perusahaan. Dalam penilaian tersebut, skor yang lebih rendah menunjukkan tingkat risiko ESG yang lebih rendah.
Berdasarkan data ESG Risk Rating Sustainalytics yang ditampilkan Bursa Efek Indonesia (BEI), bank-bank Himbara memiliki tingkat risiko ESG yang berbeda-beda, mencerminkan perbedaan eksposur dan pengelolaan risiko keberlanjutan masing-masing bank.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pembiayaan tersebut menghasilkan dampak yang terukur, mulai dari pengurangan emisi, peningkatan efisiensi energi, hingga penguatan ekonomi inklusif.
(Salma Laiqa/slm)

13 hours ago
11















































