Unigha Menyalakan Asa, di Tengah Derita Yang Membara

2 hours ago 2

Kumandang azan Subuh baru saja menghilang di balik Gle (bukit-red) Gapui, ketika suara ayam mulai berkejaran dari satu kandang ke kandang lain. Burung-burung kecil turun dari ranting yang masih basah oleh embun, mengibaskan sayap seperti hendak membangunkan pagi yang berjalan terlalu lambat. Di pematang sawah, para petani sudah menuruni lereng, melangkah di antara padi muda berwarna hijau pucuk, padi yang tumbuh tenang, belum mengenal kata “bencana” yang mengguncang Sumatra.

Pagi di Gle Gapui terasa utuh, tetapi kabar dari dari jauh membentuk sayatan tidak terlihat. Hujan semalam meninggalkan aroma kesedihan, seolah membawa pesan jauh, di Sumatra, ada rumah-rumah yang belum kering dari air mata. Ada tanah yang belum selesai menelan luka.

Sementara para petani memulai hari dengan ritual yang mereka warisi turun-temurun, kampus Unigha memulai hari dengan cara yang berbeda. Gedung Leuguna tidak tampak seperti gedung kampus. Ia lebih seperti ruang transit, tempat harapan, derita, dan tugas mulia menunggu untuk saling bertemu.

Di dalam gedung itu, 150 mahasiswa berdiri dalam barisan rapi. Mereka bukan lagi sekadar mahasiswa. Pada pagi itu, mereka menjadi pembawa pesan, pembawa harapan dan, sayangnya, harapan sering dikirim ke tempat yang paling sunyi.

Para pimpinan kampus berbicara silih berganti, membawa amanat, instruksi, dan harapan yang dirangkai dalam bahasa protokol. Namun ada sesuatu yang jauh lebih terdengar daripada kata-kata itu diam. Diam yang terasa seperti pengetahuan pahit bahwa perjalanan mereka bukan sekadar agenda akademik, tetapi pertemuan dengan rasa sakit yang tidak pernah ditulis di modul kuliah.

Ketua LPPM, Dr. Zufahmi, bicara tentang teknis program. Runtut, rapi, terukur. Namun suaranya melunak ketika ia menyebut bencana. “Kami ingin program ini tidak hanya terlihat, tetapi dirasakan.”

Kata “dirasakan” itu menggantung lama. Karena merasakan berarti masuk ke desa yang tersisa separuh, menatap wajah yang kehilangan mata pencaharian, dan menghirup udara yang masih penuh sisa ketakutan setelah banjir membawa hidup orang.

Ketua Yayasan, T. Yasman Saputra, SH, MH, berbicara seperti seorang ayah yang mengirim anak-anaknya ke medan yang tidak ia kuasai sepenuhnya. “Kalian akan bertemu orang-orang yang tidak punya pilihan selain kuat.” tuturnya tegas.

Kalimat itu sederhana, tetapi pedih. Sebab ia mengakui hal yang sering disembunyikan: bahwa ketabahan warga bukanlah anugerah, melainkan keterpaksaan.

Rektor Unigha, Dr. Heri Fajri, memberi pesan paling senyap, paling menohok. “Saat kalian tiba di sana, warga tidak bertanya siapa kalian. Mereka hanya ingin tahu apakah kalian peduli,” tuturnya.

Ruangan menjadi sunyi setelah itu. Senyap yang memecah jarak antara teori dan kenyataan.

Program Mahasiswa Berdampak 2026 ini memiliki empat fokus besar pemberdayaan masyarakat, pemulihan lingkungan, penguatan ekonomi produktif, dan edukasi kebencanaan. Tertata di atas kertas. Rapi dalam proposal.Namun di lokasi bencana, fokus itu bermakna lebih sederhana, mengembalikan kehidupan yang pernah berhenti sejenak.

Kadang itu berarti membersihkan halaman rumah yang berlumpur. Kadang itu hanya mengajak anak-anak tertawa di tenda pengungsian. Kadang itu berarti menemani ibu-ibu yang kehilangan usaha kecilnya. Hal-hal kecil, tetapi menjadi nyala kecil bagi mereka yang sedang berjalan dalam gelap.

Ketika acara pelepasan selesai, mahasiswa mulai keluar dari gedung satu per satu. Ada yang memegang rompi program dengan bangga, ada yang memeluk rekan satu tim seperti hendak menyiapkan diri untuk perjalanan panjang, ada pula yang hanya menatap jauh ke luar jendela, mungkin membayangkan desa yang akan mereka datangi.

Di wajah-wajah itu, keberanian dan ketakutan berjalan beriringan. Mereka tahu perjalanan ini tidak mudah. Tetapi mereka juga tahu di tanah yang basah oleh duka, seseorang sedang menunggu mereka.

Dan di situlah inti paling manusiawi dari pengabdian, bahwa sebelum menolong orang lain, seseorang harus berani meninggalkan kenyamanannya sendiri.

Tulisan Waspada.id, melihat keberangkatan ini bukan sebagai agenda kampus. Ini adalah kisah tentang kampus di Pidie yang memilih mengirim anak-anak mudanya ke titik-titik gelap yang tidak tersentuh kamera.

150 Mahasiswa itu tidak sedang berangkat menjalankan program. Mereka berangkat mendengarkan. Mendengar cerita rumah yang hanyut. Mendengar hidup yang berusaha bertahan. Mendengar suara yang hampir padam, tetapi tetap ingin didengar.

Dan ketika mereka kembali nanti, mereka tidak akan lagi pulang sebagai mahasiswa.Mereka akan pulang sebagai manusia yang telah melihat dunia tanpa tirai seremonialnya.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |