Wayang sebagai Falsafah Hidup : HISKI Ajak Publik Membaca Ulang Warisan Budaya

3 hours ago 2
Budaya

4 Februari 20264 Februari 2026

 HISKI Ajak Publik Membaca Ulang Warisan Budaya

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Wayang kembali ditegaskan sebagai medium refleksi kehidupan manusia yang sarat makna filosofis dalam Pidato Kesusastraan HISKI 2026.

Bertempat di Auditorium Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, acara ini mengangkat tema “Wayang sebagai Cermin Kehidupan dan Falsafah Hidup Lintas Zaman,”

Gelaran menempatkan wayang tidak sekadar sebagai seni pertunjukan tradisional, melainkan warisan budaya yang relevan untuk memahami realitas sosial, politik, dan kemanusiaan masa kini.

Wayang Cermin Sosial Politik dan Cermin Kehidupan Manusia

Pidato kesusastraan dibacakan oleh Ketua Umum Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., dengan pembicara utama Dr. Sri Teddy Rusdy.

Dalam pemaparannya, Prof. Novi menekankan bahwa wayang merekam kompleksitas kehidupan manusia melalui simbol, tokoh, dan alur cerita yang kaya nilai.

Keberanian, cinta, pengorbanan, hingga konflik kepentingan hadir sebagai bagian dari falsafah hidup yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Sastra Wayang sebagai Teks Terbuka

Menurut Prof. Novi, wayang tidak hanya hidup di panggung pertunjukan, tetapi juga berkembang dalam bentuk sastra.

Teks, dialog, dan narasi dalam sastra wayang membuka ruang tafsir yang luas, memungkinkan pembacaan ulang sesuai konteks sosial yang terus berubah.

“Hal ini menjadikan wayang sebagai “teks terbuka” yang mampu mencerminkan dinamika kekuasaan dan kehidupan masyarakat modern,” ujarnya, dikutip dari portal informasi digital Surat Indonesia.

Membaca Politik dan Kekuasaan Lewat Lakon Wayang

Peluncuran buku Sastra Wayang menjadi bagian penting dalam acara tersebut. Buku ini menempatkan wayang sebagai cermin sosial politik yang merekam intrik kekuasaan dan realitas kehidupan masa kini.

Lakon-lakon wayang yang sarat konflik dan strategi politik dinilai masih relevan untuk memahami praktik kekuasaan, sekaligus menanamkan nilai patriotisme dan pengabdian terhadap kepentingan bersama.

Perempuan dalam Wayang dan Isu Kesetaraan

Pidato Kesusastraan HISKI 2026 juga menyoroti peran strategis tokoh perempuan dalam dunia pewayangan.

“Tokoh-tokoh perempuan memiliki kekuatan simbolik dan daya tawar yang mencerminkan kepemimpinan, keteguhan moral, serta relevan dengan wacana kesetaraan gender di era kontemporer,” kata Prof. Novi.

Adaptasi Wayang di Era Digital

Seiring perkembangan zaman, wayang terus beradaptasi dengan medium baru. Selain hadir dalam seni rupa, motif batik, dan pertunjukan modern, wayang kini menjangkau ruang digital melalui animasi dan media sosial.

Transformasi ini dipandang sebagai strategi kultural untuk mendekatkan nilai-nilai luhur pewayangan kepada generasi muda agar tetap hidup lintas generasi.

Selain aspek budaya dan filosofi, Prof. Novi juga menyinggung keterkaitan erat antara pertunjukan wayang dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Faktor ekonomi rakyat memengaruhi intensitas pementasan, jumlah penonton, hingga bentuk penyajian cerita, menunjukkan bahwa wayang selalu tumbuh bersama realitas sosial yang melingkupinya.

Melalui Pidato Kesusastraan HISKI 2026, wayang ditegaskan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan falsafah hidup yang terus relevan untuk membaca dinamika manusia dan kebudayaan masa kini.

HISKI mengajak publik untuk membaca ulang wayang sebagai sumber inspirasi, refleksi, dan pemahaman kritis terhadap kehidupan, sekaligus sebagai jembatan nilai yang menghubungkan tradisi dengan tantangan zaman modern.

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |