Update Terkini Banjir Bandang Nepal-Tibet, Ratusan Tewas dan Hilang

6 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Bencana besar melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, setelah material lumpur dan batu dalam jumlah besar longsor ke sungai pada Rabu (26/8/2026). Aliran air bercampur lumpur kemudian menerjang wilayah Nepal dan menyebabkan banjir bandang dahsyat yang menewaskan sedikitnya 157 orang serta membuat ratusan wisatawan dilaporkan hilang.

Video yang telah diverifikasi memperlihatkan puluhan orang terseret arus di kawasan perbatasan. Otoritas di kedua sisi perbatasan memperkirakan jumlah korban dapat meningkat signifikan, sementara kerusakan yang ditimbulkan juga sangat besar.

Di Nepal, rumah-rumah, jalan, serta proyek pembangkit listrik tersapu banjir dan longsor. Sementara itu, pejabat di Tibet memperingatkan kemungkinan adanya korban jiwa dalam jumlah besar setelah longsoran lumpur menghantam salah satu jalur perlintasan perbatasan di Kabupaten Gyirong.

Keshav Prasad Baral, seorang penyintas berusia 68 tahun, menceritakan bagaimana lumpur tiba-tiba menerjang rumahnya. Saat diwawancarai ketika menjalani perawatan di sebuah rumah sakit kecil, ia mengatakan istrinya terseret material longsor.

"Itu adalah aliran lumpur yang sangat besar yang langsung mengarah ke kami. Ketika semakin dekat, aliran itu terus naik semakin tinggi. Ketika saya melihat lumpur masuk ke rumah kami, saya mencoba meraih tangan istri saya dan membawanya ke teras. Namun, dia tersapu lumpur," kata Baral, dilansir Reuters.

"Empat atau lima jam kemudian, sebuah helikopter datang untuk menyelamatkan saya. Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia sudah pergi."

Penyintas lainnya mengatakan dirinya berhasil selamat dengan berpegangan pada sebuah pohon mangga. Dari sana, ia melihat rumah tempatnya bekerja menghilang diterjang bencana.

Penyebab pasti bencana masih diselidiki. Laporan awal pejabat Nepal menyebut gempa bumi yang terjadi di kawasan tersebut kemungkinan menyebabkan bagian bawah gletser runtuh dan kemudian memicu banjir.

Ketika malam tiba, petugas masih melakukan upaya pencarian, mengevakuasi jenazah, serta berusaha mengidentifikasi para korban. Polisi Nepal mengatakan hingga Rabu malam waktu setempat sebanyak 157 jenazah telah ditemukan.

Sementara itu, pejabat Kementerian Pariwisata Nepal mengatakan kepada sejumlah media bahwa lebih dari 400 wisatawan masih hilang, termasuk sekitar 340 warga negara asing.

Sunil Sharma, juru bicara Nepal Tourism Board, mengatakan kepada Associated Press bahwa 133 wisatawan yang hilang merupakan warga India yang sedang melakukan perjalanan ziarah.

Selain itu, 47 wisatawan yang hilang berasal dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, dan 24 dari Kanada.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pemerintahnya terus memantau kondisi warga Amerika yang terdampak bencana.

Kanada juga mengikuti perkembangan bencana tersebut. Perdana Menteri Kanada Mark Carney melalui X menyebut banjir itu sebagai bencana yang "benar-benar menghancurkan."

Kawasan yang terdampak merupakan bagian dari jalur populer menuju Kailash Manasarovar di Tibet. Lokasi tersebut setiap tahun dikunjungi ratusan umat Hindu dari India dan negara lainnya untuk melakukan ziarah, terutama pada periode seperti sekarang.

Di sisi China, Xinhua melaporkan tiga orang tewas dan 265 lainnya masih hilang di Gyirong. Namun, jumlah tersebut masih dalam proses verifikasi dan operasi pencarian serta penyelamatan terus dilakukan.

Korea Selatan secara terpisah mengatakan delapan warganya yang bekerja di sebuah pembangkit listrik tenaga air di kawasan tersebut juga hilang.

Rekaman CCTV Perlihatkan Warga Melarikan Diri

Rekaman kamera keamanan dari sisi China di perbatasan Nepal-Tibet memperlihatkan banyak orang berusaha menyelamatkan diri sebelum gelombang batu, lumpur, dan air menghancurkan bangunan serta kendaraan dan menyeret sejumlah korban.

Pusat Penelitian Geosains Jerman atau German Research Centre for Geosciences mencatat adanya gempa berkekuatan 4,4 magnitudo sekitar tujuh menit sebelum waktu yang terlihat dalam cap waktu rekaman kamera keamanan tersebut.

Di wilayah Nuwakot dan Dhading yang terdampak, warga terlihat berkumpul di luar pusat pelatihan militer Nepal. Fasilitas tersebut menjadi salah satu pangkalan operasi penyelamatan menggunakan helikopter.

Mereka datang untuk mencari informasi mengenai anggota keluarga yang belum ditemukan.

Polisi mencatat nama-nama warga yang hilang di luar gerbang barak. Karena infrastruktur pembangkit listrik tenaga air mengalami kerusakan, kawasan tersebut masih tanpa listrik. Polisi pun menggunakan cahaya dari lampu telepon seluler untuk mencatat laporan warga.

Di wilayah terdampak, rumah, pepohonan, dan kendaraan terendam atau tertimbun material longsor. Helikopter terus beroperasi sepanjang hari untuk membawa para penyintas keluar dari kawasan bencana.

Analisis awal terhadap citra satelit Planet Labs menunjukkan longsoran es dan batu kemungkinan memicu banjir yang membawa material debris dalam jumlah besar di Sungai Lhende.

Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal mengatakan melalui X bahwa lokasi tersebut berada sekitar 20 kilometer sebelah timur laut dari perlintasan perbatasan Rasuwagadhi antara Nepal dan China.

Namun, helikopter penyelamat dilaporkan tidak dapat mendarat di wilayah Syapru Besi dan Timure, Kabupaten Rasuwa, Nepal. Kawasan pegunungan tersebut dihuni sekitar 50.000 orang.

Pejabat mengatakan kondisi sungai yang meluap hingga berada di atas jalur normal membuat operasi penyelamatan semakin sulit.

Rekaman televisi memperlihatkan rumah-rumah yang runtuh, mobil yang hanyut, serta sebuah jembatan logam yang tersapu arus. Sementara itu, saksi mata mengatakan kepada Reuters bahwa air telah menenggelamkan seluruh permukiman.

"Ada kehancuran di mana-mana yang kami lihat," kata Tula Bahadur BK, pekerja kesehatan di Rasuwa, kepada Reuters.

"Permukiman di sebelah sungai telah tersapu sepenuhnya. Lima kerabat saya sendiri masih hilang."

Pelabuhan Gyirong Ikut Lumpuh

Xinhua melaporkan longsor menghantam Pelabuhan Gyirong. Bencana tersebut memutus akses jalan, komunikasi, dan jaringan listrik di wilayah Shigatse yang berada dekat perbatasan.

Seorang petugas penyelamat yang diwawancarai stasiun televisi pemerintah China, CCTV, mengatakan timnya berusaha menghubungi pelabuhan perbatasan Gyirong, tetapi belum mendapatkan kepastian mengenai kondisi di lokasi.

"Kami sejauh ini belum mendapatkan hasil," kata petugas tersebut ketika menjelaskan upaya menghubungi pelabuhan.

Berdasarkan pemeriksaan awal menggunakan drone, seluruh jalan yang menuju perlintasan perbatasan disebut telah "hancur sepenuhnya."

Banjir membawa aliran lumpur dari ketinggian yang diperkirakan hampir 2.000 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut mendorong otoritas mengeluarkan peringatan banjir di sejumlah negara bagian India bagian utara yang padat penduduk, termasuk Uttar Pradesh dan Bihar.

Kedua wilayah tersebut berbatasan dengan Nepal dan menjadi jalur bagi sejumlah sungai yang mengalir dari pegunungan menuju dataran rendah India.

Otoritas Bihar mengatakan sekitar 5.000 orang telah dievakuasi dari enam distrik. Pemerintah setempat berencana mengevakuasi total sekitar 10.000 hingga 12.000 orang sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman banjir lanjutan.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |