Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
20 July 2026 18:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang El Niño kembali mengangkat risiko terhadap perekonomian Asia.
Ancaman yang muncul tidak terbatas pada sektor pertanian dan harga pangan tetapi mulai menjalar ke sistem kelistrikan di sejumlah negara yang masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Melansir dari pembaruan World Meteorological Organization (WMO), fenomena El Niño telah mulai berkembang dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam 9-12 bulan ke depan.
Setiap episode El Niño memiliki karakteristik berbeda, tetapi pola yang umum terjadi adalah berkurangnya curah hujan di Asia Tenggara dan sebagian Asia Selatan, sementara beberapa wilayah Asia Timur justru menghadapi hujan lebat dan risiko banjir.
Penilaian tersebut turut diperkuat oleh Southern Oscillation Index (SOI) yang berada di level negatif dalam. SOI merupakan indikator atmosfer yang digunakan untuk memantau perkembangan El Niño dan La Niña. Nilai SOI yang semakin negatif umumnya mencerminkan penguatan kondisi El Niño.
Southern Oscillation Index (SOI) Foto: DBS
DBS menjelaskan dampak El Niño menyebar melalui beberapa jalur. Penurunan curah hujan dapat menekan produksi berbagai komoditas pertanian seperti beras, minyak sawit, kakao, kopi, dan gula sehingga memicu tekanan inflasi pangan.
Setelah itu, dampaknya merembet ke sektor energi ketika permukaan waduk dan cadangan air menyusut, mengurangi kemampuan pembangkit listrik tenaga air menghasilkan listrik.
Wheat plants stand next to cracked soil on a field at the drought-hit Qian county in Xianyang, Shaanxi province, China May 29, 2025. REUTERS/Florence Lo Foto: REUTERS/Florence Lo
Melansir dari Fitch Ratings, Vietnam menjadi negara dengan tingkat kerentanan tertinggi di antara pasar yang diperingkatnya.
Sekitar 30%-40% kapasitas pembangkit dan produksi listrik Vietnam masih berasal dari PLTA. Lembaga pemeringkat itu mengingatkan pengalaman pada 2023 ketika kekurangan pasokan listrik sempat mengganggu kawasan industri dan aktivitas ekonomi.
China dan India berada pada posisi berbeda. Fitch memperkirakan pembangkit hidro utama di China tetap stabil karena jaringan bendungan di Sungai Yangtze mampu mengatur aliran air dari beberapa waduk yang saling terhubung. Di India, risiko lebih banyak berasal dari potensi pelemahan angin monsun yang memengaruhi pembangkit listrik tenaga angin. Sistem kelistrikan negara tersebut masih memiliki ruang cadangan dari pembangkit termal.
Risiko yang disampaikan Fitch sebenarnya menggambarkan persoalan yang lebih luas. Ketergantungan terhadap tenaga air masih menjadi ciri utama sistem kelistrikan di puluhan negara.
International Hydropower Association (IHA) dalam publikasi 30 Countries Where Hydropower is the Backbone of the Energy Mix mencatat sedikitnya 30 negara masih menjadikan PLTA sebagai fondasi penyedia listrik nasional. Sebagian besar berada di wilayah yang memiliki pegunungan dan sungai berdebit besar.
Di Amerika Selatan, Paraguay memperoleh hampir seluruh pasokan listrik dari PLTA melalui Bendungan Itaipu. Brasil menghasilkan lebih dari 70% listrik dari tenaga air, sementara Kolombia memenuhi lebih dari dua pertiga kebutuhan listrik nasional dari sumber yang sama.
Afrika memiliki tingkat ketergantungan yang lebih tinggi. Tajikistan menghasilkan sekitar 95% listrik dari PLTA, Ethiopia dan Zambia mendekati 90%, sedangkan Uganda sekitar 80%.
Eropa juga masih mengandalkan bendungan sebagai sumber energi utama. Norwegia memasok sekitar 90% kebutuhan listrik dari PLTA. Swiss dan Kanada berada di kisaran 60%, sedangkan Austria menghasilkan lebih dari separuh listrik nasional dari tenaga air.
Di Asia, Laos menjadi salah satu contoh paling menonjol. Negara tersebut memperoleh sebagian besar listrik dari Pembangkit Listrik Tenata Air (PLTA) dan mengembangkan kapasitas pembangkit untuk memasok listrik ke Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Peran tersebut membuat Laos dikenal sebagai Battery of Southeast Asia.
Ketergantungan yang tinggi terhadap tenaga air membuat pola cuaca memiliki pengaruh besar terhadap ketahanan energi. Saat musim hujan berlangsung normal, bendungan mampu memasok listrik dengan biaya rendah.
Sebaliknya, ketika El Niño berkembang dan curah hujan turun dalam waktu lama, kapasitas pembangkit ikut menyusut sehingga negara harus mengandalkan sumber energi lain atau meningkatkan impor listrik.
Diversifikasi pembangkit menjadi salah satu langkah yang kini ditempuh banyak negara. China memperbesar kapasitas pembangkit termal, surya, dan penyimpanan energi. India mempercepat pembangunan pembangkit surya serta pumped storage. Vietnam juga menambah pembangkit baru, meski proses pembangunan masih berlangsung.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

20 hours ago
2

















































