Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena orang tua membuka rekening investasi untuk bayi dan anak-anak semakin marak di Korea Selatan (Korsel). Langkah ini dilakukan sejak usia dini dengan harapan anak memiliki modal untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang, bahkan sebelum mereka mampu merangkak dari tempat tidur bayi.
Seorang perawat, Lee Hye-won, mengatakan dirinya dan pasangan memilih investasi karena menilai jangka waktu lebih penting daripada besarnya modal. Keluarganya rutin menginvestasikan sekitar 300.000-400.000 won (sekitar Rp3,9 juta-Rp5,2 juta) per bulan, terutama ke ETF Amerika Serikat (AS) yang mengikuti indeks S&P 500.
"Kami merasa bahwa dalam mengelola rekening anak-anak, durasi investasi lebih penting daripada besaran modal yang diinvestasikan," ujarnya kepada CNBC International, dikutip Jumat (7/8/2026).
Orang tua lainnya juga mulai memberikan "hadiah waktu" kepada anak melalui investasi. Lee Jun-hyeok, seorang karyawan kantoran salah satunya.
"Saya ingin memberikan hadiah berupa 'waktu' dan kekuatan bunga majemuk kepada anak saya selama tahun-tahun pertumbuhannya; itulah sebabnya saya membuka rekening tersebut tepat setelah ia lahir," jelasnya mengatakan bagaimana ia rutin berinvestasi pada sektor semikonduktor Korea serta saham AS yang berkaitan dengan teknologi AI.
Ilustrasi bayi korea (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Mirae Asset Securities, perusahaan sekuritas terbesar Korsel berdasarkan kapitalisasi pasar, mencatat jumlah rekening sekuritas untuk anak di bawah usia satu tahun hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Hingga Juni, jumlahnya mencapai sekitar 15.000 rekening.
Sementara itu, rekening baru untuk anak di bawah usia sembilan tahun melonjak hampir 60%. Angkanya kini menjadi sekitar 185.000 rekening.
Profesor ekonomi DePaul University Jae-joon Woo menilai tren tersebut kemungkinan tetap berlanjut meski pasar saham semakin bergejolak. Menurutnya, tren ini juga dapat menjadi tanda pergeseran perlahan dari preferensi tradisional masyarakat Korea terhadap real estat.
"Fenomena ini akan terus berlanjut selama investasi ekuitas, baik di Korea maupun pasar luar negeri, dipandang sebagai cara yang dapat diandalkan untuk membangun kekayaan jangka panjang," katanya.
Perpajakan
Dorongan lain datang dari aspek perpajakan. Korsel mengenakan pajak progresif hingga 45% atas keuntungan modal properti yang dimiliki setidaknya dua tahun, sementara tarifnya dapat mencapai 70% untuk properti yang dimiliki kurang dari dua tahun.
Sebaliknya, sebagian besar investor ritel tidak dikenakan pajak keuntungan modal ketika menjual saham yang tercatat di bursa domestik. Kecuali, mereka adalah pemegang saham utama.
Pajak hibah juga membuat rekening investasi anak semakin menarik. Orang tua dapat memberikan hibah hingga 20 juta won atau sekitar Rp360 juta kepada anak di bawah umur tanpa pajak dalam periode 10 tahun, di mana dana itu kemudian dapat digunakan untuk membeli saham atau ETF.
Namun, Woo menilai bagi keluarga berpenghasilan menengah, tujuan utama biasanya tetap untuk membiayai pendidikan dan menjaga keamanan finansial anak. Sehingga, ini bukan semata-mata menghindari pajak.
Tren tersebut turut didorong perusahaan sekuritas dan pemerintah. KakaoPay Securities berencana memberikan saham senilai 100.000 won atau sekitar Rp1,8 juta kepada setiap bayi yang lahir tahun depan. Sementara itu, otoritas keuangan sejak 2023 memungkinkan orang tua membuka rekening investasi anak secara jarak jauh melalui ponsel.
"Diizinkannya pembukaan rekening secara jarak jauh bagi orang tua telah menghilangkan hambatan praktis yang signifikan," kata ekonom senior Nomura untuk Korsel, Jeong-woo Park.
Menurutnya, kemudahan tersebut akan meningkatkan partisipasi. Meski, nilai investasi tetap lebih ditentukan oleh kekayaan keluarga, kondisi pasar, dan pertimbangan pajak.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
3

















































