Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia telah menetapkan arah kebijakan strategis untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga komitmen rendah karbon di masa depan. Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi (PHE), dipercaya untuk merealisasikan target tersebut melalui peningkatan kegiatan operasional secara masif di lapangan.
Saat membuka gelaran SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology Conference and Exhibition 2026 yang diselenggarakan di Bali pada 5-6 Agustus 2026, Wakil Direktur Utama PHE, Virano Nasution, menegaskan bahwa setiap prioritas pemenuhan energi nasional dimulai dari ketersediaan sumur pemboran, yang mencakup upaya menahan laju penurunan produksi alami di lapangan-lapangan mature, membuka potensi sumber daya baru di kawasan Indonesia Timur hingga mengoptimalkan potensi gas bumi yang melimpah.
"Energi di Indonesia bukan sekadar teori abstrak, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan hidup lebih dari 280 juta orang yang tersebar di 17.000 pulau," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).
Guna mendukung agenda tersebut, ungkap Virano, PHE aktif menjalankan program pengeboran masif dengan laju tertinggi dalam beberapa dekade terakhir melalui penggerakan ratusan sumur pengembangan, pekerjaan workover sumur, dan komitmen eksplorasi di seluruh wilayah kerja di darat (onshore) maupun lepas pantai (offshore), mulai dari Blok Rokan dan Sumatra Selatan hingga Kalimantan dan wilayah Indonesia Timur.
Mengusung tema "Transforming drilling and wells for an efficient and intelligent energy future", perhelatan SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology Conference and Exhibition 2026 dihadiri secara langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster; Deputi Eksploitasi SKK Migas, Surya Widyantoro; jajaran pimpinan PT Pertamina (Persero) serta PT Pertamina Hulu Energi (PHE); pimpinan Society of Petroleum Engineers (SPE) dan International Association of Drilling Contractors (IADC); para duta besar negara sahabat; serta ratusan delegasi industri energi mancanegara.
Lebih lanjut, Virano mengatakan, sumur-sumur migas masa depan di kawasan Asia Pasifik memiliki karakter yang semakin kompleks, bersuhu dan bertekanan lebih tinggi, serta berada di lokasi yang semakin terpencil, sehingga menuntut teknologi terbaik, armada rig dan kru yang andal, dukungan riset akademis, serta kerangka regulasi yang ramah investasi.
"Industri hulu migas Indonesia membutuhkan talenta, transfer teknologi dalam bidang eksplorasi, pemboran pengembangan, Enhanced Oil Recovery (EOR), serta Carbon Capture and Storage (CCS)," papar Virano.
Secara khusus, Virano memberikan apresiasi serta dorongan kepada para insinyur dan profesional muda di sektor energi dengan mematahkan anggapan bahwa profesi pengeboran adalah industri masa lalu. Ia menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan energi regional, pembangunan sumur panas bumi untuk transisi energi, hingga penyediaan lokasi penyimpanan karbon tidak akan pernah terwujud tanpa kontribusi dari para insinyur pemboran, ahli geologi, dan geofisikawan berkaliber tinggi, karena pekerjaan ini merupakan bagian dari tugas monumental pembangunan bangsa.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
4

















































