- Pasar keuangan Indonesia ditutup di zona merah pada perdagangan kemarin. Bursa saham dan rupiah jatuh berjamaah.
- Wall Street
- Risalah FOMC, data ekonomi dan perkembangan terbaru kebijakan ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup di zona merah pada perdagangan kemarin. Bursa saham dan rupiah jatuh berjamaah.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan berat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hampir 2% pada perdagangan Rabu (8/7/2026), sekaligus mengakhiri reli enam hari beruntun. Aksi jual terjadi setelah pelaku pasar mencerna peringatan dari S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan (Watchlist) 2027.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 5.873,37 atau merosot 113,12 poin (1,89%) dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.986,50.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp10,55 triliun.
Sebanyak 22,70 miliar saham diperdagangkan dalam 1,97 juta transaksi.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 191 saham menguat, sementara 482 saham melemah dan 116 saham bergerak stagnan.
Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 689,33 miliar.
Tekanan terjadi hampir di seluruh sektor, dengan pelemahan terdalam berasal dari sektor barang baku, properti, dan konsumer.
Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia dan PT Bank Rakyat Indoensia (BBRI) menjadi kontributor utama penekan IHSG.
Di sisi lain, PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PT United Tractor (UNTR) membantu menahan pelemahan agar tidak lebih dalam.
Sentimen negatif utama datang dari keputusan S&P DJI yang kembali mempertahankan Indonesia sebagai pasar berkembang (Emerging Market), namun sekaligus memasukkan Indonesia ke dalam Country Classification 2026/2027 Watchlist.
Masuknya Indonesia ke dalam Watchlist 2027 membuka peluang perubahan klasifikasi pada tinjauan tahunan tahun depan.
Jika berbagai persoalan di pasar modal domestik tidak segera dibenahi, Indonesia berpotensi diturunkan dari kategori Emerging Market menjadi Special Measures/Frontier Market.
S&P DJI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham sebagai perhatian utama. Minimnya keterbukaan struktur kepemilikan dinilai berdampak pada likuiditas pasar serta mengurangi keandalan mekanisme pembentukan harga saham.
Lembaga indeks global tersebut juga mencatat kekhawatiran investor institusi internasional terhadap dugaan pola perdagangan yang terkoordinasi.
Kondisi tersebut membuat investor asing kesulitan mengukur besaran free float yang sebenarnya sekaligus menimbulkan keraguan apakah harga saham di Bursa Efek Indonesia benar-benar mencerminkan mekanisme pasar yang wajar dan efisien.
Dari pasar mata uang, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Di tengah meningkatnya eskalasi perang di Timur Tengah.
Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah berakhir di zona merah dengan terkoreksi 0,11% ke level Rp17.990/US$. Di perdagangan intraday, rupiah bahkan semoat menembus RP 18.000/US$1.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,07% ke level 100,952.Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke 7,258% pada perdagangan kemarin, dari 7,183% pada hari sebelumnya.
Imbal hasil yang naik menandai harga SBN yang tengah jeblok karena dijual investor.
source on Google

1 month ago
20

















































