Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
05 June 2026 12:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan tekanan jual yang masif sejak penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia yang sebelumnya berada pada level 6.127,38, kini telah merosot tajam ke level 5.681,54 pada hari ini atau melemah 2,71% pada pukul 10.27 WIB.
Penurunan signifikan ini secara langsung dipengaruhi oleh efek rebalancing indeks yang memicu realokasi portofolio berskala besar. Hal tersebut mendorong aksi jual oleh berbagai investor institusi asing maupun domestik.
Selain itu pelemah Rupiah yang bertubi-tubi memberikan tekanan pada psikologis investor domestik maupun asing karena pada 1 April 2026 Rupiah terhadap US$ baru saja mencapai Rp17.000/US$ namun saat ini pada tanggal 4 Juni 2026 naik melemah menjadi Rp18.000/US$.
Pada akhirnya, sentimen tersebut memberikan beban yang berat terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan seiring dengan tingginya ketidakpastian kondisi makroekonomi saat ini.
Pelemahan Saham Afiliasi Konglomerasi
Di tengah fase koreksi pasar yang cukup agresif ini, saham-saham yang berafiliasi dengan grup konglomerasi besar menjadi salah satu kelompok yang mencatatkan penurunan terdalam.
Berdasarkan data pergerakan harga komulatif sejak pasca rebalancing hingga 5 Juni 2026, sejumlah emiten mengalami penyusutan kapitalisasi pasar yang sangat signifikan. PT akrie & Brothers Tbk (BNBR) memimpin daftar pelemahan dengan koreksi harga mencapai -27,91%.
Posisi tersebut disusul ketat oleh PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang anjlok hingga -21,89%, serta PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dengan tingkat pelemahan sebesar -21,88%. Tekanan jual juga melanda emiten berskala raksasa lainnya.
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) masing-masing mengalami depresiasi nilai sebesar -21,02% dan -17,53%. Penurunan secara serempak ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang cenderung menghindari aset dengan volatilitas tinggi.
Dinamika Pasar dan Pengecualian Kinerja
Meskipun data memperlihatkan koreksi tajam pada deretan emiten konglomerasi tersebut, kondisi ini tidak bersifat mutlak untuk semua entitas bisnis yang berafiliasi dengan grup besar.
Terdapat pengecualian di mana beberapa emiten konglomerasi lain mampu membukukan kinerja positif atau setidaknya bertahan di zona hijau.
Hal ini pada umumnya ditopang oleh tingkat ketahanan fundamental perusahaan yang solid, adanya aksi korporasi strategis, maupun katalis sektoral yang spesifik pada masing-masing emiten tersebut.
Fakta ini menegaskan bahwa rebalancing tidak selalu berdampak destruktif secara menyeluruh, melainkan menciptakan rotasi sektor. Rotasi ini mengharuskan para pelaku pasar untuk kembali melakukan penyesuaian profil risiko mereka di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

2 hours ago
3
















































