Aisha Mayra, CNBC Indonesia
08 July 2026 20:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Mulai Juli 2026, Inggris dan Wales memasuki sebuah titik yang jarang terjadi dalam sejarah demografinya. Untuk pertama kalinya sejak 1976, jumlah kematian diproyeksikan melampaui jumlah kelahiran.
Bukan karena angka kematian tiba-tiba melonjak. Justru, semakin sedikit bayi yang lahir setiap tahun.
Proyeksi terbaru Office for National Statistics (ONS) menunjukkan, pada 2026-2027 akan ada sekitar 584.000 bayi lahir, sementara jumlah kematian diperkirakan mencapai 588.000. Artinya, untuk pertama kalinya dalam hampir 50 tahun, neraca penduduk berubah menjadi negatif.
Menurut analisis Centre for Social Justice (CSJ), 2025-2026 menjadi tahun terakhir ketika jumlah kelahiran masih sedikit lebih tinggi dibanding kematian. Setelah itu, tren tersebut diperkirakan berbalik dan berlanjut selama beberapa tahun ke depan.
Fenomena serupa memang pernah terjadi pada 1976. Namun konteksnya berbeda. Saat itu perempuan di Inggris dan Wales rata-rata masih memiliki 1,71 anak sepanjang hidupnya. Kini angkanya tinggal 1,39 anak per perempuan.
Kali ini, titik balik tersebut terjadi ketika tingkat kelahiran sudah jauh lebih rendah dibanding lima dekade lalu.
Jumlah anak yang lahir terus menurun. Pada 2025 tercatat sekitar 585.000 kelahiran hidup, turun sekitar 10.000 dibanding tahun sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak 1977.
Tren yang sama terlihat pada tingkat fertilitas. Jika pada 2010 rata-rata perempuan di Inggris dan Wales memiliki sekitar 1,9 anak, maka pada 2025 angkanya turun menjadi sedikit di bawah 1,4.
angka kelahiran dan kematian Foto: ONS/Telegraph
Padahal, agar jumlah penduduk dapat menggantikan dirinya sendiri tanpa bergantung pada migrasi, tingkat fertilitas yang dibutuhkan berada di sekitar 2,1 anak per perempuan atau dikenal sebagai replacement rate.
Perempuan juga semakin lama menunda memiliki anak pertama. Pada 2025, rata-rata usia saat melahirkan anak pertama mencapai 29,6 tahun, hampir dua tahun lebih tua dibanding 2010 ketika penurunan fertilitas mulai semakin terlihat.
Dengan kata lain, perubahan yang terjadi bukan terutama karena masyarakat hidup lebih lama atau angka kematian meningkat, melainkan karena semakin sedikit anak yang lahir setiap tahunnya.
Menurut CSJ, keputusan memiliki anak kini semakin dipengaruhi oleh berbagai tekanan ekonomi dan perubahan sosial.
Beberapa faktor yang disebut berkontribusi antara lain:
-
harga rumah yang semakin mahal;
-
biaya pengasuhan anak yang tinggi;
-
kondisi kerja yang dinilai kurang fleksibel;
-
semakin banyak pasangan yang menunda pernikahan dan memiliki anak;
-
lebih banyak perempuan memprioritaskan karier; serta
-
semakin banyak keluarga yang memilih memiliki anak dalam jumlah lebih sedikit.
CSJ menilai kombinasi faktor-faktor tersebut membuat semakin banyak pasangan tidak hanya menunda memiliki anak, tetapi juga akhirnya memiliki anak lebih sedikit dari yang mereka rencanakan.
The Tragedy of Missing Parents
Bagi Centre for Social Justice (CSJ), penurunan angka kelahiran bukan hanya persoalan statistik.
Lembaga tersebut memperkirakan sekitar tiga juta perempuan berusia 16-45 tahun di Inggris diproyeksikan tidak memiliki anak. Angka itu berarti ada sekitar 600.000 perempuan lebih banyak yang tidak menjadi ibu dibanding jika Inggris masih mempertahankan pola fertilitas generasi sebelumnya.
CSJ menyebut fenomena ini sebagai the tragedy of missing parents.
Istilah itu merujuk pada orang-orang yang sebenarnya ingin membangun keluarga, tetapi akhirnya tidak memiliki anak karena berbagai kendala, mulai dari biaya hidup yang terus meningkat, semakin sedikit pernikahan, hingga sulitnya memperoleh hunian yang terjangkau.
Edward Davies, Direktur Riset CSJ, menyebut momen ini sebagai "tonggak yang mengkhawatirkan" setelah puluhan tahun kegagalan mendukung kehidupan keluarga.
Menurutnya, jika tren tersebut terus dibiarkan, generasi mendatang akan mewarisi sekolah yang lebih sedikit, usia pensiun yang lebih tinggi, dan semakin banyak pasangan yang tidak pernah mewujudkan keinginan untuk memiliki anak.
Dampaknya Meluas
Perubahan demografi ini juga diperkirakan berdampak pada kondisi fiskal Inggris dalam jangka panjang.
ONS memperkirakan, antara pertengahan 2024 hingga pertengahan 2034 akan terdapat sekitar 450.000 lebih banyak kematian dibanding kelahiran di seluruh Britania Raya.
CSJ menilai perubahan tersebut akan semakin menekan sistem kesejahteraan yang bergantung pada jumlah penduduk usia produktif.
Bahkan, jika pemerintah ingin mempertahankan rasio pekerja dan pensiunan seperti saat ini, anak-anak yang kini berusia delapan tahun atau lebih muda diperkirakan baru bisa pensiun pada usia 75 tahun.
Respons Pemerintah
Pemerintah Inggris menilai berbagai langkah telah disiapkan untuk membantu keluarga.
Melalui juru bicaranya, pemerintah menyebut telah menyediakan 30 jam layanan funded childcare bagi lebih dari 500.000 keluarga pekerja. Selain itu, pemerintah juga memangkas VAT untuk atraksi keluarga dan makanan anak selama musim panas, membekukan fuel duty, serta menilai inflasi yang stabil dan pertumbuhan upah riil mulai mengurangi tekanan terhadap keuangan rumah tangga.
Sementara itu, Children's Commissioner Inggris, Dame Rachel de Souza, mengatakan keluarga, bayi, dan anak-anak harus menjadi prioritas pemerintah.
"Supporting families, babies and children must be a government priority," ujarnya.
Menurut de Souza, hal itu perlu didukung oleh perencanaan perumahan yang berkualitas, layanan pengasuhan anak yang mudah diakses, serta dukungan bagi orang tua melalui layanan kesehatan, pendidikan, dan keluarga yang saling terhubung.
Arah yang Mulai Berubah
Selama puluhan tahun, pertumbuhan penduduk Inggris dan Wales lebih banyak ditopang oleh jumlah kelahiran yang melampaui kematian.
Mulai pertengahan 2026, arah tersebut diproyeksikan berubah. Tantangannya bukan hanya menghadapi masyarakat yang semakin menua, tetapi juga bagaimana menciptakan kondisi yang membuat lebih banyak orang mampu membangun keluarga yang mereka inginkan.
(mae/mae)
Addsource on Google

3 hours ago
3

















































