Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
10 July 2026 12:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Temasek Holdings kembali membukukan catatan gemilang dengan mencatatkan rekor nilai portofolio.
Temasek membukukan net portfolio value sebesar S$518 miliar atau sekitar US$401 miliar atau sekitar Rp 7.218 triliun (US$1= Rp 18.000) untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Maret 2026.
Temasek merupakan perusahaan investasi milik pemerintah Singapura yang bertugas mengelola aset negara secara komersial. Berbeda dengan sovereign wealth fund yang umumnya mengelola cadangan devisa, Temasek berinvestasi langsung dengan memiliki saham di berbagai perusahaan strategis, baik di Singapura maupun di luar negeri, untuk menciptakan nilai jangka panjang.
Pencapaian per Maret 2026 menjadi rekor tahunan kedua berturut-turut bagi Temasek. Total shareholder return dalam satu tahun mencapai 10,5%, terutama ditopang oleh kinerja kuat perusahaan-perusahaan Singapura di dalam portofolio serta keuntungan dari divestasi.
Kinerja pasar domestik Singapura juga ikut memberi dorongan. Straits Times Index naik lebih dari 23% sepanjang April 2025 hingga Maret 2026, didorong antara lain oleh Equity Market Development Programme yang diumumkan otoritas moneter Singapura untuk membuka nilai lebih besar di pasar saham.
Namun, kinerja Temasek tidak sepenuhnya bebas tekanan. Perang Iran yang pecah pada 28 Februari disebut menekan nilai portofolio sekitar 2%. Penguatan dolar Singapura juga memangkas total shareholder return satu tahun sekitar 2 poin persentase.
Temasek juga tetap aktif melakukan capital recycling. Pada periode tersebut, perusahaan mencatat divestasi sebesar S$31 miliar. Salah satu transaksi yang menonjol adalah penjualan saham Schneider Electric India yang dilaporkan senilai S$8,18 miliar pada Juni 2025.
Dalam jangka lebih panjang, total shareholder return lima tahun Temasek berada di 4,6%, tertekan oleh pelemahan pasar China pada 2021-2024.
Meski eksposur China turun dari 24% pada 2016 menjadi 17% pada 2026, secara nilai absolut eksposur Temasek ke China justru naik sekitar S$10 miliar dalam setahun terakhir. Untuk periode 10 tahun, total shareholder return Temasek tercatat 7,1% dalam dolar Singapura.
Temasek Net Portfolio Value (NPV) since inception
Temasek sebagai Pembanding Pengelolaan Portofolio Negara
Grafik historis Temasek menunjukkan perjalanan panjang nilai portofolio negara tersebut sejak awal berdiri. Nilainya tidak bergerak lurus, melainkan melewati sejumlah periode tekanan, mulai dari Asian Financial Crisis, dotcom peak, SARS, krisis keuangan global, market dislocation, hingga pandemi Covid-19.
Dari sudut pandang Indonesia, data ini relevan untuk membaca posisi awal Danantara. Bukan dalam arti Danantara langsung disamakan dengan Temasek, melainkan sebagai pembanding bagaimana aset negara dapat dikelola dalam kerangka portofolio jangka panjang.
Temasek kini mengarahkan fokus ke tiga area besar, yakni artificial intelligence, private credit, dan core-plus infrastructure. Eksposur AI dalam portofolio ditargetkan naik dari 6% saat ini menjadi 15% pada 2031. Core-plus infrastructure ditargetkan meningkat dari 1% menjadi 5%, sementara private credit naik dari 2% menjadi 5% dalam periode yang sama.
Bagi pembaca Indonesia, arah ini memberi konteks atas sektor-sektor yang kini semakin penting dalam pengelolaan portofolio negara. AI tidak hanya terkait investasi di perusahaan teknologi, tetapi juga rantai nilai pendukung seperti cloud service provider, foundation model, aplikasi AI, pusat data, dan infrastruktur energi. Sementara core-plus infrastructure mencakup energi terbarukan, energi nuklir, penyimpanan energi, serta teknologi dekarbonisasi.
Danantara dalam Konteks Indonesia
Dalam konteks Indonesia, Danantara hadir dengan mandat yang berbeda.
Fokusnya tidak hanya pada investasi, tetapi juga pada pengelolaan dan transformasi aset negara, terutama melalui ekosistem BUMN. Karena itu, pembacaan terhadap Danantara lebih tepat ditempatkan pada tiga konteks: konsolidasi aset, pembiayaan strategis, dan pembangunan sektor masa depan.
Data tersebut menunjukkan bahwa Danantara masih berada pada fase pembentukan fondasi. Konsolidasi BUMN menjadi salah satu agenda utama karena struktur aset negara yang besar membutuhkan pengelolaan yang lebih sederhana dan terukur.
Di sisi lain, penerbitan obligasi global dan kerja sama dengan investor internasional memberi sinyal bahwa Danantara mulai membangun akses ke pasar modal global. Hal ini penting karena proyek-proyek strategis, terutama di energi, infrastruktur, digital, pangan, dan kesehatan, membutuhkan kapasitas pembiayaan jangka panjang.
Dengan demikian, sudut pandang utama dari perbandingan Temasek dan Danantara bukan soal siapa yang lebih besar, melainkan bagaimana aset negara dikelola sebagai portofolio yang memiliki arah. Temasek menunjukkan contoh portofolio matang yang sudah melewati beberapa siklus krisis.
Danantara, sementara itu, berada pada tahap awal membangun kerangka pengelolaan aset negara yang lebih terkonsolidasi, produktif, dan terhubung dengan kebutuhan ekonomi masa depan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

2 hours ago
1

















































