Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id): Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas dan berdampak langsung pada pasar keuangan global. Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu pemicu melemahnya nilai tukar Rupiah serta tekanan pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Tekanan pasar juga datang dari data ketenagakerjaan AS. Serapan tenaga kerja di luar sektor pertanian AS (ADP Nonfarm Employment Change) tercatat melambat menjadi 24 ribu pada Januari, jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, indeks dolar AS (USD Index) justru menguat dan bertahan di level 97,65, seiring naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke kisaran 4,279 persen.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan, Gunawan Benjamin mengatakan, penguatan dolar AS di tengah pelemahan data tenaga kerja menunjukkan pasar masih melihat AS sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global.
“Respons pasar terhadap data ADP ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya geopolitik. Penguatan dolar AS justru memberi tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah,” ujar Gunawan.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham pada perdagangan hari ini bergerak di zona merah. IHSG sempat dibuka menguat tipis di level 8.154,6, namun belum mampu bertahan dan kembali mengalami tekanan.
Minimnya agenda ekonomi penting di kawasan Asia membuat pergerakan IHSG lebih dipengaruhi sentimen domestik, termasuk respons pemerintah terhadap kebijakan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Gunawan menilai sentimen dalam negeri masih menjadi faktor kunci bagi pergerakan pasar saham Indonesia.
“Dalam kondisi minim katalis global dari Asia, IHSG akan sangat sensitif terhadap isu domestik. Respons pasar terhadap kebijakan MSCI dan langkah pemerintah akan menjadi perhatian utama pelaku pasar,” jelasnya.
Sejalan dengan IHSG, nilai tukar Rupiah pada perdagangan pagi ini terpantau melemah ke level Rp16.765 per dolar AS. Tekanan terhadap Rupiah diperkirakan masih berlanjut seiring potensi penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak mentah dunia.
Ketegangan Iran dan AS telah mendorong harga minyak mentah jenis Brent naik ke level 68,95 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi ini berpotensi memperburuk tekanan terhadap Rupiah, mengingat Indonesia masih rentan terhadap fluktuasi harga minyak global.
Sementara itu, harga emas dunia justru bergerak melemah di kisaran 4.983 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,7 juta per gram. Gunawan menyebut ruang penguatan emas saat ini relatif terbatas.
“Pelaku pasar masih cenderung menahan posisi dan menunggu rilis data penting dari AS. Selama ketidakpastian arah kebijakan moneter masih tinggi, pergerakan emas akan cenderung terbatas,” pungkasnya. (id09)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































