Mobil China Mulai Mencengkeram Dunia, Pabriknya di Penjuru Dunia

4 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

08 September 2026 11:28

Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen mobil China mulai membangun fasilitas untuk produksi di berbagai negara demi memperluas jangkauan di pasar global.

Perusahaan otomotif China seperti BYD, Chery, Geely, SAIC, dan Xpeng mulai memilih untuk memproduksi kendaraan mereka lebih dekat dengan konsumen. Mereka mendirikan pabrik baru, membeli fasilitas yang sudah tersedia, atau menggunakan sebagian kapasitas pabrik milik produsen lain.

Ekspansi ini dilakukan ketika persaingan di pasar otomotif China yang semakin ketat.

Penjualan mobil di Negeri Tirai Bambu itu diperkirakan turun 10% pada tahun ini sehingga mendorong persaingan harga dan peningkatan ekspor.

Dalam lima tahun terakhir, pangsa merek asing di pasar China menyusut sekitar separuh. Pada periode yang sama, ekspor kendaraan dari China mengalami kenaikan hingga tujuh kali lipat dengan sekitar 80% di antaranya berasal dari merek lokal.

AlixPartners seperti dilansir dari The Economist, memperkirakan ekspor kendaraan China dapat mencapai 10 juta unit pada 2026, naik lebih dari 40% dibandingkan tahun lalu.

Sebaran pabrik ChinaSebaran pabrik China Foto: The Economist

Apa Alasan Produsen China Membangun Pabrik di Luar Negeri?

Produksi di negara tujuan dapat mengurangi biaya pengiriman kendaraan utuh dari China sekaligus menghindari tarif impor. Keberadaan pabrik lokal juga memudahkan perusahaan memenuhi peraturan setempat dan menyesuaikan kendaraan dengan kebutuhan konsumen.

Selain itu, sejumlah negara memberikan subsidi dan kemudahan investasi untuk menarik pembangunan pabrik otomotif. Investasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kegiatan produksi dan menciptakan lapangan kerja.

Produsen China telah merakit kendaraan atau merencanakan pembangunan fasilitas produksi di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, Kazakhstan, Afrika Selatan, Mesir, Brasil, dan Meksiko.

Di Indonesia, BYD baru saja meresmikan pabrik kendaraan energi baru di Kawasan Industri Subang Smartpolitan, Subang, Jawa Barat, pada Kamis (3/9/2026). Pabrik pertama BYD di Indonesia tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun dan menjadi fasilitas produksi ke-13 milik perusahaan secara global.

Meski telah memperluas produksinya ke sejumlah negara berkembang, produsen China tetap menempatkan Eropa sebagai salah satu pasar utama karena besarnya penjualan kendaraan di kawasan tersebut.

Seseorang melewati area produksi perakitan mobil listrik di Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Seseorang melewati area produksi perakitan mobil listrik di Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: Seseorang melewati area produksi perakitan mobil listrik di Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Tarif tambahan yang diberlakukan Uni Eropa terhadap kendaraan listrik China sejak 2024 ternyata belum mampu menghentikan kenaikan penjualannya. Pada kuartal II-2026 saja, produsen China berhasil menguasai 11% penjualan kendaraan di Eropa Barat dan melampaui pangsa pasar produsen asal Jepang, berdasarkan data Schmidt Automotive Research.

Uni Eropa kini sedang membahas Industrial Accelerator Act. Aturan tersebut akan mengaitkan subsidi pembelian kendaraan dan insentif pajak bagi armada perusahaan dengan tingkat penggunaan komponen lokal.

Ketentuan itu diperkirakan belum diterapkan dalam satu tahun ke depan dan masih dapat berubah selama proses pembahasan.

Meski demikian, produsen China mulai menyesuaikan rencana investasinya di Eropa.

Pabrikan Otomotif China Memperluas Produksi di Eropa

Selain mendirikan pabrik di negara berkembang, kini lini produksi mobil China mulai merambat ke Eropa.  Salah satu contohnya adalah BYD, yang saat ini hampir menyelesaikan pembangunan pabrik di Hungaria yang dapat memproduksi hingga 300.000 kendaraan per tahun.

Produsen mobil terbesar China tersebut juga sedang mempertimbangkan akan perubahan rencana produksi untuk pasar Eropa.

BYD menunda pembangunan pabrik baru di Turki dan mulai mencari fasilitas yang sudah tersedia di Spanyol atau Prancis. Pembelian fasilitas lama dinilai dapat mempercepat produksi dan membutuhkan biaya lebih rendah dibandingkan pembangunan pabrik baru.

Pembangunan pabrik dari awal umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga siap beroperasi. Sementara itu, fasilitas yang sudah berdiri dapat dibeli dan disesuaikan dalam waktu yang lebih singkat.

Ketersediaan pabrik otomotif di Eropa diperkirakan bertambah karena sejumlah produsen lama sedang mengurangi kapasitas produksi. Pada 3 September 2026, Volkswagen memperoleh persetujuan dewan pengawas untuk menjalankan restrukturisasi yang mencakup penghentian produksi secara bertahap di empat lokasi di Jerman.

Produsen China juga menggunakan sebagian kapasitas pabrik milik perusahaan lain. Strategi tersebut memungkinkan produksi dimulai lebih cepat tanpa harus membeli atau membangun fasilitas sendiri.

AlixPartners memperkirakan pabrik otomotif di Eropa memiliki kapasitas yang belum digunakan untuk memproduksi sekitar 2,5 juta kendaraan per tahun.

Pada Juni 2026, Chery menandatangani kesepakatan dengan Nissan untuk menggunakan sebagian pabriknya di Sunderland, Inggris. Sebulan kemudian, Geely mendapat izin memproduksi kendaraan listrik di pabrik Ford di Valencia, Spanyol.

Pedro Pacheco dari Gartner menilai penggunaan fasilitas milik produsen lain merupakan strategi sementara untuk mempercepat pemasaran kendaraan di Eropa. Setelah itu, produsen China diperkirakan akan membangun fasilitas produksi sendiri.

SAIC telah mengonfirmasi rencana pembangunan pabrik baru di Spanyol, sedangkan Xpeng dilaporkan sedang mencari lokasi permanen untuk basis produksinya di Eropa.

Pemandangan menunjukkan mobil baru yang diproduksi oleh pabrikan mobil China Chery, di tempat parkir pabrik Sollers di Vladivostok, Rusia 15 Oktober 2023. (REUTERS/Tatiana Meel/File Foto)Pemandangan menunjukkan mobil baru yang diproduksi oleh pabrikan mobil China Chery, di tempat parkir pabrik Sollers di Vladivostok, Rusia 15 Oktober 2023. (REUTERS/Tatiana Meel/File Foto) Foto: Pemandangan menunjukkan mobil baru yang diproduksi oleh pabrikan mobil China Chery, di tempat parkir pabrik Sollers di Vladivostok, Rusia 15 Oktober 2023. (REUTERS/TATIANA MEEL/File Foto)

Produsen China Unggul dari Sisi Biaya

Produsen China saat ini memiliki biaya produksi sekitar 30% lebih rendah dibandingkan perusahaan otomotif Eropa. Keunggulan tersebut tidak hanya berasal dari biaya tenaga kerja, tetapi juga dari struktur perusahaan, proses produksi, rantai pasok, dan skala usaha.

Perbedaan biaya salah satunya dipengaruhi oleh jumlah komponen yang digunakan.

Fabian Brandt dari Oliver Wyman menyebut mobil China umumnya memiliki sekitar 1.000 hingga 2.000 jenis komponen, sedangkan kendaraan buatan produsen Eropa menggunakan sekitar 3.000 hingga 10.000 jenis komponen.

Produsen China juga telah mengembangkan software-defined vehicle, yaitu kendaraan yang berbagai fungsinya dikendalikan melalui perangkat lunak dan komputer terpusat. Sebaliknya, banyak produsen Barat masih menggunakan puluhan pengendali elektronik yang bekerja secara terpisah.

Penggunaan komponen dan sistem yang lebih sederhana menekan biaya sekaligus mempercepat pengembangan kendaraan baru. Produsen China biasanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mengembangkan model baru, sedangkan produsen asing memerlukan waktu setidaknya dua kali lebih lama.

Kecepatan pengembangan tersebut dikenal sebagai "China speed". Sebagian keunggulan ini dapat dipertahankan ketika produksi dilakukan di luar negeri karena kegiatan penelitian dan pengembangan tetap berada di China. Metode produksi yang digunakan di China juga dapat diterapkan pada fasilitas di negara lain.

Biaya Produksi di Luar China Lebih Tinggi

Produksi di luar China tetap menambah biaya operasional. Produsen harus membangun jaringan penjualan dan layanan purnajual di sekitar 30 pasar sehingga membutuhkan investasi dan pengelolaan yang lebih besar.

Ketentuan penggunaan komponen lokal juga dapat meningkatkan biaya mereka. Beberapa pemasok China memang telah membuka fasilitas di Eropa, tetapi produsen tetap harus menggunakan pemasok lokal yang juga melayani perusahaan otomotif Eropa.

Produsen China juga menghadapi biaya tenaga kerja dan energi yang berlaku di negara tempat pabrik berada. Namun, mereka masih dapat memilih lokasi produksi dengan biaya lebih rendah, seperti Hungaria atau Slovakia, dibandingkan Jerman.

Menurut Pacheco, biaya produksi di pusat industri otomotif Eropa Timur masih lebih tinggi dibandingkan China. Meski demikian, selisih biayanya tidak terlalu besar.

Penggunaan tenaga kerja juga dapat berkurang seiring meningkatnya otomatisasi. Produsen China sedang mengembangkan dark factory, yaitu fasilitas dengan proses produksi yang hampir seluruhnya dijalankan oleh mesin sehingga hanya membutuhkan sedikit pekerja.

Kapasitas Produksi Luar Negeri Meningkat

AlixPartners memperkirakan kapasitas produksi produsen mobil China di luar negeri akan mencapai 3,4 juta kendaraan pada 2030, meningkat dari 1,2 juta kendaraan pada tahun lalu. Sejumlah perkiraan lain menyebut kapasitas tersebut dapat mencapai 6 juta kendaraan.

Khusus di Eropa, Mobility Global memperkirakan produsen China akan memproduksi sekitar 90.000 kendaraan pada tahun ini. Produksinya diperkirakan meningkat hingga satu juta kendaraan pada 2030.

Peningkatan kapasitas tersebut memperlihatkan perubahan strategi ekspansi produsen China. Selain meningkatkan ekspor, mereka kini menambah produksi langsung di negara tujuan untuk menekan biaya pengiriman, menghadapi kebijakan tarif, dan memenuhi ketentuan penggunaan komponen lokal.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |