Pakistan Pecahkan Rekor Impor CPO, Pengusaha Sawit RI Tertawa

8 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Impor minyak sawit Pakistan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada tahun fiskal 2025/2026 (FY26). Indonesia menjadi penyuplai terbesarnya.

Impor Pakistan pada tahun fiskal 2025/2026 (Juli 2025-Juni 2026) mencapai 3,482 juta ton dengan nilai US$3,785 miliar atau sekitar Rp 68,13 triliun (US$1= Rp 18.000).

Nilai ini meningkat dibanding FY25 yang mencapai 3,214 juta ton senilai US$3,4 miliar.

Berdasarkan data Pakistan Bureau of Statistics (PBS), harga rata-rata impor minyak sawit pada FY26 mencapai US$1.078 per ton, naik dari US$1.056 per ton pada FY25.

Impor sawit PakistanImpor sawit Pakistan Foto: Overseas Investors Chamber of Commerce & Industry (OICCI)

Dikutip dari Pakistan Today, Ketua Pakistan Vanaspati Manufacturers Association (PVMA) Sheikh Umer Rehan mengatakan lonjakan impor didorong oleh meningkatnya permintaan minyak goreng dan ghee akibat pertumbuhan penduduk serta menurunnya produksi bahan baku lokal seperti biji kapas.

Menurutnya, konsumsi minyak nabati di Pakistan telah meningkat menjadi 4,8 juta ton dari sekitar 4 juta ton lima tahun lalu.

Namun, Rehan mengkritik pemerintah karena hingga kini Pakistan belum memiliki kebijakan nasional mengenai minyak nabati sejak merdeka.

Ia juga mengeluhkan tekanan dari Federal Board of Revenue (FBR) yang kini mewajibkan produsen membayar general sales tax (GST) berdasarkan harga eceran (retail price), bukan lagi berdasarkan harga pabrik (ex-mill price) seperti sebelumnya.

Menurut Rehan, perubahan mekanisme pajak dalam anggaran FY27 akan menaikkan harga minyak goreng dan ghee sekitar Rs10-Rs15 per kilogram.

Dalam anggaran FY27, pemerintah memperluas cakupan Third Schedule dengan mengubah mekanisme pemungutan pajak untuk minyak goreng dan ghee berdasarkan Maximum Retail Price (MRP) atau harga eceran tertinggi. Kebijakan tersebut dinilai akan meningkatkan beban pajak industri.

Sebelumnya, PVMA telah meminta pemerintah memangkas pajak sektor minyak nabati dan ghee dalam penyusunan anggaran guna meringankan beban masyarakat.

Data Sensitive Price Index (SPI) menunjukkan harga minyak goreng dan ghee memang telah meningkat dalam setahun terakhir. Harga rata-rata nasional minyak goreng kemasan 5 liter kini berada di kisaran Rs2.975-Rs3.110 atau sekitar Rp194.862,5- Rp 203.705 (1 Rs= Rp 65,5), naik dari Rs2.800-Rs3.000 setahun sebelumnya.

Overseas Investors Chamber of Commerce & Industry (OICCI)Overseas Investors Chamber of Commerce & Industry (OICCI) Foto: Overseas Investors Chamber of Commerce & Industry (OICCI)

Sementara itu, harga rata-rata ghee kemasan 2,5 kg naik menjadi Rs1.500-Rs1.565 dari sebelumnya Rs1.425-Rs1.485. Adapun harga ghee kemasan 1 kg meningkat menjadi Rs590-Rs610, dibandingkan Rs550-Rs580 pada tahun sebelumnya.

Rekor impor minyak sawit Pakistan menunjukkan ketergantungan negara tersebut terhadap minyak nabati impor semakin besar, seiring meningkatnya konsumsi domestik dan terbatasnya pasokan bahan baku lokal.

Pakistan merupakan importir minyak sawit terbesar keempat di dunia, setelah India, China, dan Uni Eropa. Hal ini terjadi meskipun Pakistan merupakan negara agraris, di mana lebih dari 37% tenaga kerja bekerja di sektor pertanian.

Masalah utamanya bersifat struktural. Pakistan hanya mampu memproduksi sekitar 12%-15% dari total kebutuhan minyak nabati domestiknya, hampir tidak membudidayakan tanaman penghasil minyak dalam skala komersial, serta membubarkan satu-satunya lembaga khusus pengembangan tanaman minyak setelah Amandemen ke-18 Konstitusi pada 2011.

Akibatnya, tagihan impor minyak nabati hampir dua kali lipat sejak tahun fiskal 2020 (FY20). Dengan konsumsi minyak nabati sekitar 24 kilogram per kapita per tahun, salah satu yang tertinggi di Asia Selatan, permintaan diperkirakan tidak akan menurun dengan sendirinya.

Sejumlah solusi sebenarnya tersedia. Salah satunya adalah mencontoh National Mission on Edible Oils di India, yang berhasil menggandakan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) domestik pada periode 2014-2025 melalui perluasan lahan secara terarah, jaminan harga, dan komitmen kelembagaan yang berkelanjutan.

Sementara itu, para peneliti di Ayub Agricultural Research Institute (AARI) Pakistan memperkirakan bahwa mengalihkan sebagian lahan surplus gandum dan tebu untuk ditanami kanola dan bunga matahari dapat memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan minyak nabati dalam negeri.

Indonesia, Pemasok Besar CPO di Pakistan


Pakistan menggantungkan 80-90% pasokan minyak sawitnya kepada Indonesia. Dengan jumlah tersebut, Indonesia adalah pemasok terbesar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor sawit RI ke Pakistan melonjak 29,5% dalam lima tahun terakhir (volume) dan melesat 98,2% (secara volume).

Data terbaru Januari-Mei 2026 bahkan menunjukkan Pakistan kini menggeser China sebagai tujuan ekspor terbesar kedua. India masih menjadi pangsa pasar terbesar.

(mae/mae)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |