Perubahan Besar Terjadi di Laut, Kebakaran dan Badai di Mana-Mana

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Suhu permukaan laut dunia baru saja mencetak rekor tertinggi yang belum pernah terjadi selama 125.000 tahun terakhir. Kombinasi fenomena alam El Niño yang diperparah oleh pemanasan akibat aktivitas manusia mendorong lautan ke titik panas yang belum pernah disaksikan sepanjang sejarah peradaban manusia.

Laporan Futurism yang mengutip data resmi Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, menyatakan bahwa suhu rata-rata permukaan laut global mencapai 21,1 derajat Celcius pada 22 Agustus 2026. Angka ini memecahkan rekor sebelumnya yang baru saja tercatat pada Maret 2024.

Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah suhu tertinggi lautan biasanya terjadi pada bulan Maret-April, tetapi kali ini rekor justru tercapai di bulan Agustus yangbiasanya lebih sejuk.

Ryan Katz-Rosene dari Universitas Ottawa memperingatkan bahwa suhu laut saat ini kemungkinan besar merupakan yang tertinggi sepanjang zaman Holosen dan bisa jadi merupakan yang terpanas sejak zaman antar-glasial terakhir, 125.000 tahun yang lalu.

"Ini seharusnya menjadi berita utama dunia," tegasnya.

Sinyal Bahaya yang Terlihat Nyata

Samantha Burgess, peneliti utama Copernicus, menyatakan bahwa rekor suhu ini adalah sinyal nyata lautan sedang berada di bawah tekanan yang makin berat. El Niño memang menambah panas, tetapi lonjakan suhu akibat fenomena tersebut terjadi di atas pemanasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun akibat emisi manusia.

Dampaknya kenaikan suhu laut terhadap iklim Bumi sudah tampak jelas:

  • Jumlah hari gelombang panas di laut naik lebih dari tiga kali lipat sejak awal 1990-an.
  • Sekitar 42 persen luas lautan dunia kini sedang mengalami gelombang panas laut, mendekati rekor terluas 46 persen yang tercatat pada 2024.
  • Laut yang makin panas kehilangan kemampuannya menyerap karbon dioksida dari udara, sehingga memperparah efek rumah kaca.
  • Badai dan hujan ekstrem diperkirakan akan makin sering dan makin kuat hingga akhir tahun.

Apa yang Harus Dilakukan Manusia?

Para ilmuwan menegaskan solusinya sudah diketahui sejak lama, tetapi belum dilakukan dengan cukup serius. Ada dua langkah utama yang mendesak:

  • Pertama, pengurangan emisi bahan bakar fosil secara cepat dan drastis. Tanpa menurunkan laju pemanasan akibat gas rumah kaca, suhu laut akan terus naik melampaui batas kemampuan makhluk hidup untuk beradaptasi.
  • Kedua, perlindungan ekosistem laut dan pesisir. Terumbu karang, hutan bakau, dan padang lamun adalah benteng alami yang melindungi pantai sekaligus menyerap karbon. Jika ekosistem ini rusak, kemampuan laut mendinginkan dirinya sendiri akan hilang sepenuhnya.

Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, pemanasan laut ini membawa risiko berlipat ganda. Suhu air yang panas dapat memicu kerusakan terumbu karang besar-besaran, naiknya permukaan air laut, serta memperkuat badai yang menghantam pantai. Di saat yang sama, fenomena El Niño yang diperparah oleh pemanasan global memperpanjang musim kemarau dan memperluas kebakaran hutan di dalam negeri.

Lautan adalah penyangga iklim terbesar Bumi. Jika penyangga itu sendiri mulai panas hingga titik rekor tertinggi dalam puluhan ribu tahun, peringatannya sangat jelas: Bumi sedang berubah ke arah yang jauh lebih panas, dan perubahannya terjadi jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menyesuaikan diri.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |