Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah pada perdagangan Rabu (22/7/2026), mematahkan tren reli yang telah berlangsung dalam sembilan hari bursa berturut-turut.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada akhir sesi pertama hari ini IHSG turun 0,39% atau 24,47 poin ke level 6.315,55.
Hingga jeda makan siang, nilai transaksi tercatat sekitar Rp 11,24 triliun dengan volume perdagangan mencapai 28,93 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,81 juta kali. Sebanyak 238 saham menguat, 366 saham melemah, sementara 190 saham bergerak stagnan.
Memasuki perdagangan hari ketiga pekan ini, pasar keuangan Indonesia ada di zona positif di tengah momentum penguatan IHSG dan rupiah.
Meski tengah di zona positif, pelaku pasar keuangan Tanah Air masih akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.
Mulai dari keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan pada siang nanti. Serta juga data dari eksternal yakni tingkat pengangguran Inggris dan neraca perdagangan Jepang.
Pergerakan IHSG sedang menunjukkan momentum penguatan yang cukup solid. Terlihat dari penutupan perdagangan kemarin, dimana IHSG menguat 1,74% hingga tembus di atas level 6.300. Kenaikan ini sekaligus membuat IHSG berhasil menguat dalam sembilan hari perdagangan beruntun.
Terakhir kali IHSG mampu naik sembilan hari beruntun terjadi pada Juli 2025. Saat itu, laju penguatan bahkan berlanjut hingga 11 hari perdagangan beruntun.
Selain menguat sembilan hari beruntun, IHSG juga tercatat melesat dalam 14 dari 15 hari perdagangan terakhir. Sejak awal Juli 2026, IHSG hanya sekali ditutup melemah, yakni pada 8 Juli 2026.
Sejak terakhir melemah pada 8 Juli, IHSG sudah menguat 7,93%. Sementara sepanjang Juli berjalan atau month-to-date (MtD), IHSG telah melesat 12,35%.
Kenaikan IHSG kali ini juga mulai ditemani masuknya dana asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,99 triliun sejak 16 Juli hingga 21 Juli 2026.
Aksi beli asing tersebut terlihat sejak 16 Juli, ketika asing membukukan net buy Rp1,22 triliun. Setelah itu, asing kembali masuk sebesar Rp638,05 miliar pada 17 Juli, Rp96,72 miliar pada 20 Juli, dan Rp31,36 miliar pada 21 Juli.
Nilai transaksi harian juga mulai lebih ramai. Dalam tiga hari perdagangan terakhir, transaksi IHSG konsisten berada di atas Rp15 triliun per hari.
Setelah sempat mencatatkan nilai transaksi harian terkecilnya di sepanjang 2026 pada perdagangan 10 Juli lalu.
Masuknya dana asing dan naiknya nilai transaksi membuat penguatan IHSG kali ini terlihat lebih sehat dan kita harapkan mampu mempertahankan momentum penguatannya.
Sementara itu, BI akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur atau RDG BI periode Juli pada siang nanti. RDG tersebut sudah berlangsung sejak Selasa-Rabu (21-22 Juli 2026).
Berdasarkan polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi dan lembaga menunjukkan mayoritas responden memperkirakan BI Rate kembali naik.
Sebanyak delapan responden memproyeksikan BI Rate naik 25 basis poin (bps), dari 5,75% menjadi 6,00%. Sementara itu, enam responden lainnya memperkirakan suku bunga akan dipertahankan di level 5,75%.
Jika proyeksi mayoritas tersebut benar terjadi, kenaikan bulan ini akan menjadi pengetatan keempat BI sepanjang 2026. Sebelumnya, BI sudah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei hingga mencapai 5,75% pada Juni.
Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama mengapa mayoritas ekonom memperkirakan BI masih akan menaikkan suku bunga.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

1 hour ago
3
















































