Warga RI Lagi Ogah-ogahan Beli Rumah, Ternyata Ini Penyebabnya

1 hour ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Penurunan penjualan rumah subsidi pada semester I-2026 dinilai tidak bisa dijelaskan hanya dari melemahnya daya beli masyarakat atau persoalan pembiayaan. Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) Martin D.Siyaranamual menilai ada sejumlah faktor struktural yang turut memengaruhi keputusan masyarakat untuk membeli rumah.

"Kalau ditanya apakah penurunan permintaan rumah ini akibat dari kondisi masyarakat, penyusutan dari kelas menengah? Ada kemungkinan untuk itu. Atau kemungkinan yang lain adalah karena ketidakpastian," kata Martin dalam konferensi pers SMF, Rabu (22/7/2026).

Sektor perumahan merupakan salah satu sektor yang paling sensitif terhadap kondisi ekonomi. Saat ketidakpastian meningkat, masyarakat cenderung menunda pembelian aset bernilai besar dan berjangka panjang, termasuk rumah, demi menjaga kondisi keuangan mereka tetap aman.

"Sektor perumahan itu adalah sektor yang paling sensitif dengan ketidakpastian. Dia yang paling sering duluan ditinggalkan, tapi dia yang paling belakangan mengalami perbaikan. Rumah itu investasi jangka panjang. Ketika kondisinya tidak pasti, rumah duluan yang akan ditinggalkan. Orang memilih menyimpan uang untuk kebutuhan sehari-hari daripada membeli rumah," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat perlambatan pasar properti tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan mengecilnya kelas menengah. Ketidakpastian ekonomi juga menjadi faktor yang mendorong masyarakat menunda keputusan membeli rumah.

"Semakin kondisi tidak pasti, sektor-sektor yang sifatnya jangka panjang pasti ditarik duluan. Orang akan berpikir, 'saya tidak usah beli rumah dulu'," katanya.

Selain faktor ekonomi, Martin melihat perubahan perilaku generasi muda juga mulai mengubah wajah pasar perumahan nasional. Pergeseran preferensi ini membuat kepemilikan rumah bukan lagi menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat usia produktif.

"Perubahan pola konsumsi masyarakat muda saat ini juga penting. Mereka cenderung memilih menyewa rumah ketimbang membeli rumah. Jadi belum tentu orang tidak membeli rumah karena sektor perumahannya bermasalah, bisa jadi karena memang mereka menunda atau pola konsumsi masyarakat mudanya berubah," ucapnya.

Martin menambahkan, perubahan tren tersebut belum diimbangi dengan ekosistem rumah sewa yang memadai. Menurutnya, Indonesia hingga kini belum memiliki regulasi yang komprehensif untuk mengatur hubungan antara pemilik dan penyewa rumah sebagaimana yang telah diterapkan di sejumlah negara maju.

"Kita belum punya aturan yang memadai terkait rumah sewa. Padahal di negara seperti Amerika Serikat, aturan sewa rumah sudah baku dan memiliki kepastian hukum. Jadi jangan hanya melihat penyusutan kelas menengah sebagai penyebab turunnya permintaan rumah. Ada faktor lain yang juga perlu menjadi perhatian," sebut Martin.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) yang baru menjabat Deddy Indrasetiawan mengungkapkan, realisasi penjualan rumah subsidi sepanjang semester I-2026 tercatat sebanyak 91.531 unit.

Angka tersebut turun dibandingkan semester I-2025 yang mencapai 120.976 unit atau merosot 24,3% secara tahunan (year on year/yoy).

"Berdasarkan data realisasi perbandingan semester 1 tahun 2025 dengan semester 1 tahun 2026, turun dari 120.976 menjadi 91.531. Mengalami penurunan 24,3% yoy," kata Deddy kepada CNBC Indonesia, Selasa (21/7/2026).

(dari kiri ke kanan) Primasari Setyaningrum, Sekretaris Perusahaan PT SMF (Persero), Bonai Subiakto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT SMF (Persero), Ananta Wiyogo, Direktur Utama PT SMF (Persero), Heliantopo, Direktur Bisnis PT SMF (Persero), dan. Martin D. Siyaranamual, Chief Economist PT SMF (Persero) saat konferensi pers SMF, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)(dari kiri ke kanan) Primasari Setyaningrum, Sekretaris Perusahaan PT SMF (Persero), Bonai Subiakto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT SMF (Persero), Ananta Wiyogo, Direktur Utama PT SMF (Persero), Heliantopo, Direktur Bisnis PT SMF (Persero), dan. Martin D. Siyaranamual, Chief Economist PT SMF (Persero) saat konferensi pers SMF, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |