Jakarta, CNBC Indonesia - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menargetkan sebanyak 11 rangkaian KRL baru dapat beroperasi pada semester I tahun 2026 di lintas Jabodetabek. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menargetkan, 11 train set yang diproduksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA itu dapat beroperasi sebelum Juni 2026.
Ia menyebut, saat ini sebanyak 4 train set sudah beroperasi, sementara 1 train set lainnya sedang dalam tahap masa uji.
"Kita harapkan dari 16 train set ini sisa dari 11 train set yang lainnya itu akan bisa kami operasikan sebelum bulan Juli tahun 2026 ini," ujarnya dalam rapat dengan Komisi XI di gedung DPR RI Jakarta, Senin (9/2/2026).
Bobby mengungkapkan, KAI membutuhkan dana mencapai Rp 9,18 triliun. Salah satu sumbernya berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 5,3 triliun. Sementara sisanya dari kas internal PT KAI Commuter sebesar Rp 190 miliar serta kredit perbankan dengan tenor 15 tahun senilai Rp 3,69 triliun.
Selain itu, dia juga menyampaikan, kondisi 908 armada KRL Jabodetabek telah berusia cukup tua, yaitu berusia 34 hingga 41 tahun. Kereta tersebut merupakan kereta bekas yang terdiri dari sebanyak 780 unit merupakan kereta bekas impor dari JR East Jepang dan 128 unit KRL bekas impor dari Tokyo Metro.
Foto: Penampakan KRL made in Madiun. (Dok. INKA)
Penampakan KRL made in Madiun. (Dok. INKA)
Sedangkan KRL baru yang telah dioperasikan KAI berjumlah 180 kereta, terdiri dari kereta CRRC Sifang dengan total 132 unit atau 11 train set dan KRL produksi INKA sebanyak 48 unit atau 4 train set.
Bobby menjelaskan, kondisi kepadatan penumpang KRL pada jam sibuk sudah berada di level mengkhawatirkan. Dalam satu gerbong KRL pada peak hour, jumlah penumpang bisa mencapai sekitar 300 orang. Dengan ukuran gerbong sekitar 3 x 20 meter atau 60 meter persegi, berarti setiap satu meter persegi ditempati oleh sekitar lima orang.
"Ini menggambarkan dua kondisi, di mana kalau tanpa pengadaan sarana. Kalau tanpa pengadaan sarana maka di tahun 2030 itu akan terjadi lonjakan sampai 630%. Sedangkan kalau dengan pengadaan sarana baru itu ada 156%," jelasnya.
Menurutnya, kepadatan penumpang KRL berdampak pada penurunan tingkat kenyamanan penumpang dan peningkatan risiko terhadap keamanan penumpang. Bobby menambahkan saat ini sejumlah stasiun tercatat menjadi titik dengan kepadatan tertinggi, antara lain Stasiun Bogor, Depok, dan Bekasi.
Sementara di wilayah Jakarta, stasiun paling padat adalah Stasiun Sudirman, Manggarai, Tanah Abang, serta Stasiun Sudirman Baru.
"Memang pada saat ini kereta yang ke sana itu masih headway-nya 10 sampai 15 menit, belum bisa kita perpendek headway-nya karena memang ada permasalahan sistem dari kelistrikan, elektrifikasinya, dan juga sistem dari signaling-nya," pungkasnya.
(rob/wur)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
4
















































