Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
23 April 2026 12:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan terhadap ringgit Malaysia (MYR) pada perdagangan Kamis (23/4/2026).
Melansir data Refinitiv, pada pukul 10.54 WIB rupiah terpantau melemah 0,54% terhadap ringgit Malaysia ke level Rp4.359/MYR. Posisi ini sekaligus menjadi level terlemah baru rupiah terhadap ringgit Malaysia secara intraday.
Sejak awal perdagangan, tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat. Mata uang Garuda dibuka melemah di level Rp4.336/MYR, sebelum pelemahannya kian dalam seiring berjalannya transaksi.
Pelemahan rupiah terhadap mata uang negara tetangga ini bukan terjadi tanpa alasan. Pada saat yang sama, rupiah juga tengah tertekan cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah tercatat berada di level Rp17.300/US$ atau melemah 0,76% terhadap dolar AS. Level tersebut juga menjadi posisi terlemah baru rupiah secara intraday terhadap greenback, sekaligus menandai tembusnya level psikologis baru.
Dengan perkembangan itu, secara year to date (ytd) rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 3,78% terhadap dolar AS.
Lalu bagaimana dengan ringgit Malaysia? Pada perdagangan di waktu yang sama, ringgit juga sebenarnya berada dalam tekanan terhadap dolar AS. Mata uang Malaysia itu terpantau di level MYR3,964/US$ atau melemah sekitar 0,35%.
Meski demikian, kinerja ringgit sepanjang tahun ini masih tergolong impresif. Secara year to date, ringgit masih mencatat apresiasi sekitar 2,27% terhadap dolar AS.
Artinya, tekanan yang lebih besar dialami rupiah. Sementara ringgit, meski pada hari ini ikut melemah terhadap dolar AS, secara keseluruhan masih mampu menunjukkan ketahanan dan bahkan unggul melawan greenback sepanjang tahun berjalan.
Pelemahan rupiah terhadap ringgit tidak hanya terjadi karena tekanan pada mata uang domestik, tetapi juga karena ringgit memang sedang ditopang fundamental yang kuat.
Sejumlah analis global menilai ringgit masih berpeluang menguat lagi sepanjang 2026. Strategist Loomis Sayles Hassan Malik misalnya menyebut Malaysia saat ini ditopang pertumbuhan yang tangguh, kebijakan makro yang kredibel, serta ekonomi yang terdiversifikasi, mulai dari energi hingga data center.
Dukungan lainnya datang dari ekspor yang tetap kuat dan derasnya investasi ke sektor pusat data. Deutsche Bank dan OCBC juga melihat ringgit masih memiliki ruang penguatan, dengan kisaran MYR3,85-3,90 per dolar AS dinilai masih mungkin diuji tahun ini.
Dampak Melemahnya Rupiah terhadap Ringgit
Pelemahan rupiah terhadap ringgit pada akhirnya juga bisa membawa dampak bagi sektor pariwisata. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asal Malaysia seiring lebih kuatnya posisi ringgit.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2025 jumlah wisatawan asal Malaysia yang berkunjung ke Indonesia mencapai 2.639.749 kunjungan.
Angka tersebut setara dengan sekitar 17,16% dari total kunjungan wisman ke Indonesia yang mencapai 15.386.646 kunjungan sepanjang tahun lalu.
Dengan jumlah kunjungan yang sudah besar itu, pelemahan rupiah terhadap ringgit berpotensi makin meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan Malaysia.
Kurs yang lebih menguntungkan membuat biaya hotel, makan, transportasi, hingga belanja di Indonesia menjadi relatif lebih murah bila dihitung dalam ringgit.
Dengan kata lain, pelemahan rupiah terhadap ringgit memang menjadi tekanan dari sisi nilai tukar. Namun di balik itu, ada peluang yang bisa dimanfaatkan, yakni meningkatnya daya tarik Indonesia sebagai destinasi yang lebih murah bagi wisatawan Malaysia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

5 hours ago
1
















































