Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menunda rencana serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari. Keputusan tersebut diambil setelah adanya "percakapan yang baik dan produktif" antara Washington dan Teheran.
"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mengadakan percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya dikutip dari Aljazeera, Senin (23/3/2026).
"Saya telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung," tambah Trump.
Pada Sabtu, Trump memberi ultimatum kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi seluruh kapal dalam waktu 48 jam. Ia memperingatkan bahwa jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Amerika Serikat akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran.
Sebelumnya, Iran menyatakan akan menutup sepenuhnya selat tersebut, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia-sebagai bentuk balasan. Teheran juga mengancam akan menargetkan fasilitas energi di Israel dan negara-negara Teluk.
Blokade de facto Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak global serta menyebabkan kelangkaan gas di sejumlah negara Asia.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol pada Senin memperingatkan bahwa situasi di Timur Tengah saat ini "sangat parah" dan bahkan dinilai lebih buruk dibandingkan gabungan dua krisis energi pada era 1970-an.
Sementara, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menanggapi bahwa jika Washington melanjutkan ancamannya, Iran akan menargetkan pembangkit listrik di semua wilayah yang memasok listrik ke pangkalan AS "serta infrastruktur ekonomi, industri, dan energi di mana Amerika memiliki saham".
Selain itu, Dewan Pertahanan Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayah pantai selatan atau pulau-pulau mereka akan memicu respons militer berupa pemasangan ranjau laut, yang berpotensi menutup jalur pelayaran di Teluk.
Osama bin Javaid dari Al Jazeera, mengutip percakapannya dengan sejumlah diplomat, mengungkapkan bahwa bahkan selama libur Idulfitri, komunikasi intensif tetap berlangsung antara berbagai negara, baik melalui kedutaan maupun langsung dengan Gedung Putih.
"Orang-orang telah memberi tahu kami bahwa mereka telah memberi tahu Trump bahwa proses eskalasi ini tidak baik bagi Iran atau Israel," lapornya.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

3 hours ago
2
















































