Asia Tak Kompak Hadapi Dolar: Rupiah-Ringgit Melemah, Yen-Won Perkasa

13 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia tak seragam dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (7/8/2026). 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.16 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak enam mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara empat lainnya melemah.

Yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pada pagi ini. Yen menguat 0,28% terhadap dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah perhatian pasar yang masih tertuju pada dinamika intervensi Jepang dan AS dalam beberapa hari terakhir.

Won Korea Selatan menyusul dengan kenaikan 0,27% ke posisi KRW 1.419/US$. Dolar Taiwan juga menguat 0,09% ke TWD 32,201/US$, sedangkan dong Vietnam naik 0,08% ke VND 26.214/US$.

Dolar Singapura turut menguat 0,04%, sementara yuan China naik tipis 0,02%.

Di sisi lain, tekanan terdalam pagi ini dialami peso Filipina yang melemah 0,36% ke posisi PHP 60,987/US$. Ringgit Malaysia juga terkoreksi 0,07% ke MYR 4,09/US$, sementara baht Thailand melemah tipis 0,03% ke THB 33,11/US$.

Rupiah juga belum mampu mengikuti penguatan mayoritas mata uang Asia. Mata uang Garuda melemah 0,08% ke posisi Rp17.925/US$. Meski terkoreksi, rupiah masih bertahan di bawah level psikologis Rp18.000/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,956.

Kenaikan tipis DXY membuat ruang penguatan mata uang Asia tidak kompak. Namun, posisi dolar AS masih berada di bawah level 100, sehingga sebagian mata uang kawasan tetap mampu bertahan di zona hijau.

Reuters melaporkan dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap yen dan euro pada Jumat, melanjutkan kenaikan pada perdagangan sebelumnya. Dukungan terhadap greenback datang dari meningkatnya keraguan pasar terhadap kesepakatan damai Iran, sehingga permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman kembali menguat.

Dolar AS juga mendapat tenaga tambahan dari kenaikan imbal hasil Treasury AS. Hal ini terjadi setelah laporan Financial Times yang mengutip sumber dekat Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, bergantung pada data ekonomi yang masuk.

Selain itu, pelaku pasar menunggu rilis data tenaga kerja AS, yakni nonfarm payrolls, pada Jumat waktu setempat. Data ini akan menjadi petunjuk penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral (The Federal Reserve/The Fed).

Ketegangan di kawasan Teluk juga masih menjadi perhatian. Reuters melaporkan adanya proposal kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri konflik AS-Iran. Namun, proposal tersebut disebut dapat memberi Teheran kendali atas lalu lintas masuk melalui Selat Hormuz.

Kondisi tersebut membuat pasar kembali berhati-hati. Harga minyak Brent naik lebih dari US$1 ke US$83,55 per barel pada Jumat, setelah pada sesi sebelumnya ditutup menguat lebih dari US$3.

Kristina Clifton, ekonom Commonwealth Bank of Australia, menilai dolar AS mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak setelah prospek kesepakatan AS-Iran dinilai tidak secepat harapan pasar.

"Dolar AS didukung oleh kenaikan harga minyak setelah muncul kabar bahwa kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali selat tersebut masih lebih jauh dari harapan," ujar Clifton, dikutip dari Reuters.

Clifton juga menilai The Fed belum akan buru-buru menaikkan suku bunga, meski peluang pengetatan tetap terbuka.

"Kami memperkirakan The Fed akan menunggu hingga Desember sebelum memulai siklus pengetatan secara bertahap," ujar Clifton.

Menurut survei Reuters terhadap ekonom, nonfarm payrolls AS diperkirakan bertambah 80.000 pekerjaan pada Juli, setelah naik 57.000 pada Juni. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,2%.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |