Bukan Cuma di Resto, Fenomena Perusahaan Irit Karyawan Terjadi di Sini

9 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Lesunya kondisi ekonomi Indonesia cukup tergambarkan dari fenomena sedikitnya jumlah pekerja yang bekerja di berbagai sektor usaha. Fenomena seperti itu juga terjadi di gerai restoran makanan siap saji hingga toko mebel.

Berdasarkan hasil pandangan mata CNBC Indonesia pada Kamis lalu (2/7/2026), terdapat salah satu toko makanan siap saji di kawasan Blok M, Jakarta Selatan terlihat sepi dan meja yang terisi hanya beberapa saja. Tak hanya itu, jumlah pelayannya hanya satu orang saja. Ia bertugas sebagai kasir, penyaji, hingga pengantar makanan.

Dari situ, pelayan tersebut ternyata merangkap berbagai macam tugas dalam satu periode kerja yang sebenarnya bisa dilakukan oleh beberapa orang karyawan. Akan tetapi, beberapa tugas tadi kini hanya dilakukan oleh satu karyawan saja.

Bukan cuma di restoran cepat saji, fenomena irit karyawan juga terjadi di toko furnitur. Dalam konteks ini, CNBC Indonesia melihat para pekerja aktif mengangkut dan merapikan barang-barang furnitur. Di samping itu, mereka juga merangkap sebagai informan bagi calon pembeli yang berkunjung ke toko.

Bahkan, beberapa dari mereka juga melakukan pengecekan kondisi barang dan melakukan perbaikan pada beberapa barang yang rusak. Alhasil, mayoritas pekerja mebel tersebut menjalani pekerjaannya dengan multitasking. Ternyata, kondisi ini erat kaitannya dengan penurunan penjualan furnitur beberapa waktu terakhir, sehingga sejumlah toko melakukan efisiensi operasional dan tenaga kerja.

Sebagai contoh, salah satu pedagang mebel bekas di Manggarai, Jakarta Selatan yang bernama Abdul mengaku bahwa omzet penjualannya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi nasional yang membuat permintaan masyarakat lesu.

Suasana mebel bekas di kawasan Jl Dr Sahardjo, Manggarai, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2026). (Dok Ist)Suasana mebel bekas di kawasan Jl Dr Sahardjo, Manggarai, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2026). (Dok Ist) Foto: Suasana mebel bekas di kawasan Jl Dr Sahardjo, Manggarai, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2026). (Dok Ist)

"Sekitar 50% ada kalau pedagang-pedagang furnitur. Kalau per hari kadang-kadang laku, kadang-kadang enggak, paling laku taruh lah bangsa 2 atau 1," ujar dia.

Pada akhirnya, karyawan toko pun terpaksa dikurangi dari yang tadinya bisa mencapai enam orang sekarang hanya sisa dua orang saja. Saat ini, toko tersebut memberikan upah kepada karyawan melalui dua skema, yakni harian dan mingguan di kisaran Rp 150 ribu per hari atau Rp 1,05 juta per minggu.

"Kalau ginian kan nawarin-nawarin (langsung) enggak bisa, kadang-kadang larinya ke online (karena lebih murah dan bisa dapat baru)," jelasnya.

Meski menghadapi persaingan ketat dengan toko online, Abdul tetap optimis minat masyarakat untuk membeli furnitur secara langsung tetap ada. Sebab, calon pembeli bisa melihat langsung dan ada garansi.

Beranjak ke karyawan toko mebel berikutnya, Sandi mengaku aktif menjual berbagai produk furnitur bekas. Mayoritas barang tersebut tadinya berasal dari sejumlah kantor yang kini sudah tidak beroperasi atau telah mengganti furnitur. Tak hanya sekadar menjual, ia juga memberikan garansi produk mulai dari tiga bulan sejak awal pembelian.

Terlepas dari itu, Sandi menyebut, produk furniturnya tetap sulit terjual. Hal ini disebabkan oleh turunnya permintaan dari masyarakat.

Seiring lesunya penjualan, toko mebel tempat Sandi bekerja juga terpaksa melakukan berbagai efisiensi. Kini, sehari-hari Sandi hanya ditemani oleh satu orang rekannya.

Di toko tersebut, tugas Sandi bukan hanya menjual furnitur tetapi juga mengelola toko sampai menyediakan jasa perbaikan.

"Jasa perbaikan di kisaran Rp 200 ribu dan bisa lebih tergantung kondisi kerusakan dari furnitur," ujarnya.

(wur/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |