Iran Selepas Ayatollah Khamenei: Jutaan Pelayat-Masa Depan Masih Gelap

11 hours ago 6

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

06 July 2026 16:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar upacara duka, tetapi menjadi panggung penentu masa depan Republik Islam Iran. Di balik lautan pelayat, dunia kini menunggu siapa yang benar-benar akan memegang kendali setelah Khamenei.

Di Teheran, bendera-bendera hitam untuk memperingati Asyura belum sempat diturunkan.

Kini kain-kain itu menjadi bagian dari pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Di berbagai sudut kota, baliho bergambar Pertempuran Karbala memasang wajah Khamenei berdampingan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam narasi resmi pemerintah Iran, dua peristiwa itu sengaja dirangkai menjadi satu cerita. Kesyahidan Imam Hussein di Karbala pada abad ke-7 disebut mencapai babak berikutnya lewat kematian Khamenei beserta keluarganya dalam perang 40 hari melawan Israel dan Amerika Serikat.

Bahkan sebelum prosesi dimulai, pemakaman itu sudah menjadi lebih dari sekadar upacara duka.

Iranian President Masoud Pezeshkian with officials attend a prayer during a public farewell ceremony to pay their respects to late Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei, who was killed on February 28 in Israeli and U.S. airstrikes, at the Imam Khomeini Grand Mosalla, in Tehran, Iran July 5, 2026. Office of the Iranian Supreme Leader/Handout via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. ISRAEL OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN ISRAEL. NO ACCESS FOR ISRAELI MEDIA. NO USE BBC PERSIAN. NO USE VOA PERSIAN. NO USE MANOTO. NO USE IRAN INTERNATIONAL. NO USE RADIO FARDA. DIGITAL: NO USE BBC PERSIAN. NO USE VOA PERSIAN. NO USE MANOTO. NO USE IRAN INTERNATIONAL. NO USE RADIO FARDA     TPX IMAGES OF THE DAYPresiden Iran Masoud Pezeshkian bersama para pejabat menghadiri salat dalam upacara penghormatan terakhir untuk memberikan penghormatan kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan udara Israel dan Amerika Serikat, di Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, Iran, 5 Juli 2026. Office of the Iranian Supreme Leader/Handout via REUTERS 

Lebih Besar dari Khomeini

Pemerintah Iran menyiapkan prosesi yang disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak Republik Islam berdiri.

Jika pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 berlangsung selama dua hari dan menurut pemerintah dihadiri sekitar 10 juta orang, meski sejumlah estimasi lain menyebut sekitar 2,5 juta, prosesi untuk Khamenei dirancang selama enam hari dengan target hingga 20 juta pelayat.

Setelah disemayamkan selama tiga hari di aula salat berukuran stadion di Teheran, peti jenazah akan dibawa menuju Qom, lalu melintasi kota-kota suci Syiah di Irak, termasuk Karbala. Perjalanan ditutup di Mashhad, kota kelahiran sekaligus lokasi pemakamannya.

Rute itu bukan dipilih secara acak. Selain bernilai religius, pemerintah juga ingin menegaskan jejak pengaruh regional Iran yang dibangun selama lebih dari tiga dekade di bawah Khamenei.

Jalanan Harus Penuh

Pemerintah juga tidak menyembunyikan ambisinya. Pemakaman ini diposisikan sebagai semacam referendum atas masa depan Republik Islam.

Untuk memastikan jalanan dipenuhi pelayat, berbagai langkah ditempuh, antara lain:

  • Pegawai negeri di Teheran diliburkan selama beberapa hari;

  • ribuan bus dikerahkan dari berbagai daerah;

  • hotel memangkas tarif hingga 50%;

  • pelaku usaha diminta menyumbang beras dan daging;

  • penyanyi pop diminta membuat lagu penghormatan;

  • lebih dari 100 ribu mahasiswa seminari didorong menghadiri prosesi.

Pesannya sederhana. Kematian Khamenei ingin dibaca sebagai simbol keteguhan rezim, bukan tanda melemahnya kekuasaan.

Iran yang Tidak Hadir

Namun pemandangan di jalan tidak selalu mencerminkan suasana hati seluruh negeri.

Seorang mantan pejabat senior Iran memperkirakan hanya sekitar 2 juta hingga 5 juta orang yang masih benar-benar loyal kepada rezim, dari total sekitar 92 juta penduduk Iran. Bagi banyak warga lainnya, Khamenei dikenang sebagai pemimpin yang semakin mengandalkan represi untuk mempertahankan kekuasaan.

Selama memimpin sejak 1989, ia dinilai mempersempit ruang kelompok reformis, memengaruhi proses pemilu, dan memperkuat dominasi ulama dalam sistem politik. Ketika demonstrasi besar pecah awal tahun ini dengan slogan "Death to the dictator", pemerintah merespons dengan tindakan keras yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.

Karena itu, ketika kabar kematiannya menyebar, tidak semua warga memilih berkabung.

Sebagian dilaporkan meninggalkan Teheran sehingga jalan keluar kota dipadati kendaraan. Sebagian lain memilih menghabiskan hari di kafe, jika pemerintah tetap mengizinkan tempat-tempat itu beroperasi.

"Without Khamenei, everything feels better," kata seorang mahasiswa di Mashhad.

Satu kalimat itu menggambarkan kontras yang sulit disembunyikan. Negara berupaya menghadirkan jutaan pelayat, sementara sebagian warganya justru memilih menjauh.

Pewaris yang Belum Terlihat

Di tengah prosesi sebesar itu, sosok yang seharusnya paling menjadi perhatian justru hampir tidak terlihat.

Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei yang ditunjuk secara tergesa-gesa sebagai penerus di tengah perang, belum pernah muncul di hadapan publik sejak ayahnya tewas. Ia bahkan tidak menghadiri pemakaman istrinya sendiri yang digelar beberapa hari sebelumnya.

Ketiadaan itu memunculkan berbagai spekulasi. Di kalangan pendukung rezim, Mojtaba mulai dijuluki sebagai Imam Mahdi yang Gaib, merujuk pada figur mesianis dalam tradisi Syiah.

Mourners attend a prayer during a public farewell ceremony to pay their respects to late Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei, who was killed on February 28 in Israeli and U.S. airstrikes, at the Imam Khomeini Grand Mosalla, in Tehran, Iran, July 5, 2026. Office of the Iranian Supreme Leader/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS  ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. ISRAEL OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN ISRAEL. NO ACCESS FOR ISRAELI MEDIA. NO USE BBC PERSIAN. NO USE VOA PERSIAN. NO USE MANOTO. NO USE IRAN INTERNATIONAL. NO USE RADIO FARDA. DIGITAL: NO USE BBC PERSIAN. NO USE VOA PERSIAN. NO USE MANOTO. NO USE IRAN INTERNATIONAL. NO USE RADIO FARDA.

Para pelayat mengikuti salat dalam upacara penghormatan terakhir bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari akibat serangan udara Israel dan Amerika Serikat, di Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, Iran, 5 Juli 2026. Office of the Iranian Supreme Leader/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS

Padahal, menurut tradisi Islam, anggota keluarga biasanya memimpin salat jenazah. Jika Mojtaba kembali tidak muncul dalam prosesi utama, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal kewibawaannya sebagai penerus, tetapi juga apakah ia benar-benar siap memimpin.

Keraguan itu bertambah karena Mojtaba lebih dikenal sebagai figur politik dibanding ulama. Hingga kini, ia juga belum menerbitkan risalah keilmuan yang lazim menjadi syarat untuk diakui sebagai grand ayatollah.

Ketika Militer Maju ke Depan

Sementara pewarisnya belum terlihat, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) justru semakin menonjol.

Menurut konstitusi Iran, pemimpin tertinggi merupakan panglima tertinggi angkatan bersenjata. Namun selama perang berlangsung, operasi militer tetap berjalan tanpa kehadiran figur tersebut, dan tidak ada tanda IRGC kehilangan kendali.

Dalam lagu-lagu penghormatan yang diputar menjelang pemakaman, Khamenei digambarkan bukan hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga inspirasi perjuangan militer.

"Khamenei-lah yang membangkitkan semangat kami untuk bertempur."

Narasi itu menunjukkan perubahan yang halus. Penekanan tidak lagi hanya pada legitimasi keagamaan, tetapi juga pada kekuatan militer.

Pergeseran yang Lebih Besar

Karena itu, pertanyaan terbesar setelah wafatnya Khamenei mungkin bukan siapa yang akan menggantikannya.

Yang lebih menentukan adalah siapa yang akan benar-benar mengambil keputusan.

Selama puluhan tahun, Republik Islam berdiri di atas keseimbangan antara otoritas ulama dan kekuatan negara. Kini muncul kemungkinan keseimbangan itu bergeser. Pemimpin agama tetap menjadi simbol, sementara pengaruh nyata semakin terkonsentrasi di tangan Garda Revolusi.

Jika itu terjadi, perubahan terbesar Iran bukanlah pergantian satu orang di pucuk kekuasaan, melainkan berubahnya pusat kekuasaan itu sendiri.

Setelah Keramaian Usai

Dalam beberapa hari ke depan, jalan-jalan Teheran kemungkinan akan dipenuhi jutaan orang. Sebagian datang karena keyakinan. Sebagian lagi karena kewajiban. Sebagian mungkin karena memang tidak punya banyak pilihan.

Namun ketika prosesi berakhir dan kerumunan mulai bubar, perhatian tidak lagi tertuju pada sosok yang dimakamkan.

Yang akan diamati dunia adalah siapa yang benar-benar memegang kendali atas Iran setelahnya.

(mae/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |