Ukuran Font
Kecil Besar
14px
PANYABUNGAN (Waspada.id): Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), terus mematangkan rencana strategis untuk mengembalikan kejayaan komoditas pisang kepok di Bumi Gordang Sambilan.
Langkah serius ini ditandai dengan koordinasi intensif antara Dinas Pertanian Madina dengan jajaran pakar dari Universitas Medan Area (UMA).
Sebagai tindak lanjut pertemuan Bupati Madina Saipullah Nasution dan Wakil Bupati Atika Azmi Utammi sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Madina, Taufik Zulhadra Ritonga, bersama Asisten Pemerintahan dan Kesra, Drs. Sahnan Pasaribu, melakukan kunjungan kerja ke Kampus UMA pada Senin (13/4/2026).
Dalam pertemuan tersebut, rombongan Pemkab Madina disambut oleh lima profesor lintas disiplin ilmu, yakni Prof. Zulkarnain Lubis, Prof. Suswati, Prof. Retna Astuti, Prof. Dadan Ramdan dan Prof. Siti Mardiana.
Taufik Zulhadra menjelaskan bahwa pengembangan pisang kepok kali ini tidak hanya sekadar wacana penanaman biasa, melainkan sebuah program komprehensif yang menyentuh sektor hulu hingga hilir.
“Transformasi ini dirancang melalui pendekatan multi-sektor. Di sisi hulu (Agroteknologi), kita fokus pada standarisasi pola tanam dan teknologi modern. Sementara di sisi hilir (Agribisnis), kita targetkan penciptaan nilai tambah melalui pengolahan hasil panen menjadi produk turunan,” kata Taufik.
Selain sektor produksi, kata dia, rencana ini juga mencakup pengembangan lahan budidaya sebagai destinasi wisata edukasi, yang diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat lokal.

Taufik mengaku bahwa hasil rapat teknis di Medan menyepakati sejumlah poin penting yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat yaitu, tim ahli dari UMA akan meninjau langsung lokasi Demplot (Demontration Plot) pengembangan pisang kepok di Sipalangka, Madina.
Dalam waktu dekat, Taufik juga menyebut penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) secara resmi antara Pemkab Madina dan Universitas Medan Area sebagai payung hukum kolaborasi riset dan pendampingan petani akan dilakukan.
Mengingat sejarah Madina yang pernah berjaya sebagai penghasil pisang kepok didukung iklim yang sangat cocok, Taufik optimis integrasi teknik budidaya dan akses pasar yang terarah akan meningkatkan taraf hidup petani secara signifikan.
“Program ini kita harapkan tidak hanya menjadikan pisang sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan di Mandailing Natal,” pungkasnya.(d100)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































