Sutrisno Pangaribuan: JK Tidak Mungkin Punya Keinginan Ciptakan Kegaduhan

3 hours ago 2

MEDAN (Waspada.Id): Umat Kristen Indonesia diimbau untuk menahan diri, dengan tidak mengeluarkan kecaman dan ujaran kebencian, sebagai reaksi atas ceramah Muhammad Jusuf Kalla (JK). Karena sebagai Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 dan kini telah berusia 83 tahun, sangat tidak mungkin JK, mempunyai keinginan menciptakan kegaduhan publik.

Pernyataan itu disampaikan Inisiator Konser Perdamaian Dunia (Konperda) Sutrisno Pangaribuan (foto), Senin (13/4). Dia mengomentari polemik yang terjadi, terkait potongan video JK, saat berpidato di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain sebagai Inisiator Konperda, Sutrisno Pangaribuan juga merupakan Ketua BPC GMKI Medan Periode 2003-2005, dan Ketua Bidang Organisasi dan Hukum PP GMKI Periode 2008-2010.

Beberapa waktu lalu, dalam pernyataannya di UGM, Mantan Wapres JK, menggambarkan konsep keagamaan yang dikaitkan dengan konflik di Poso dan Ambon. Dalam video yang beredar, JK, menyampaikan bahwa konflik bernuansa agama kerap sulit dihentikan. Alasannya, karena adanya keyakinan dari masing-masing pihak terkait konsep ‘syahid’. Kata JK, kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya, Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Pernyataan ini kemudian menjadi kontroversi di publik.

Menanggapi ini, Sutrisno Pangaribuan, menyampaikan pandangannya. Yang pertama, dia meminta, pidato JK tersebut harus dilihat dan dipahami secara utuh tanpa sentimen, emosi, kebencian, dan amarah kelompok sosial masyarakat Indonesia manapun, tanpa ditarik- tarik sebagai bahan pertentangan SARA.

Ke dua, kata Sutrisno, bahwa JK, telah menjelaskan sendiri bahwa kejadian yang dijelaskan dalam ceramah tersebut tentang konflik berbau SARA di Maluku, Maluku Utara dan Palu saat itu. Karenanya, menurut Sutrisno, semua pihak harus dapat memahami secara jernih, konteks permasalahan yang dibahas.

Ketiga, bahwa tidak terdapat materi ceramah yang menista ajaran Agama Kristen dalam potongan video tersebut. Sebab, menurut Sutrsino, Mantan Wapres JK, menjelaskan bagaimana warga negara yang berbeda agama saling membunuh pada konflik Ambon dan Poso. Dia bilang bahwa faktanya didapati korban dari kedua belah pihak yang saling berhadap- hadapan saat konflik berbau SARA pada saat itu.

Bahwa, kata Sutrisno, reaksi dari berbagai pihak, Ormas, OKP, Komunitas , maupun perorangan, yang mengatasnamakan umat Kristen Indonesia terhadap pernyataan JK, adalah tidak mewakili suara dan aspirasi umat Kristen Indonesia. Dia bilang, kecaman, ancaman, dan ujaran kebencian yang disampaikan sebagai reaksi atas ceramah JK, justru menjadi bias, aksi reaksi.

Disampaikan Sutrisno, bahwa suara umat Kristen secara umum, diwakili oleh PGI, PGPI, dan Katolik diwakili oleh KWI. Maka reaksi kelompok di luar itu adalah reaksi biasa yang tidak mewakili suara umat Kristen Indonesia. Dia sampaikan, Jika ada kekeliruan dalam materi yang disampaikan dalam ceramah JK, maka diharapkan JK, dapat segera bertemu dengan PGI, PGPI, dan KWI. Tujuannya, agar polemik dapat diakhiri.

Selanjutnya, disampaikan Sutrisno bahwa inti dari ajaran Kristus adalah Kasih terhadap Tuhan Allah dan terhadap sesama manusia. Maka, jika meneladani Kristus secara totalitas, dipastikan tidak ada umat Kristen yang marah, emosi, bahkan melaporkan JK Polri. Kata Sutrisno, umat Kristen Indonesia itu adalah juru damai, suka menebar kasih, tidak suka lapor melapor.

Kemudian, disampaikan Sutrisno, bahwa dunia yang cemas membutuhkan kedamaian. Maka sesama warga Indonesia harus mampu saling memahami dan menerima. ‘’Jika pun ada yang kurang tepat dari pernyataan Muhammad Jusuf Kalla terhadap ajaran Kristus (Kristen), maka dapat diluruskan oleh PGI, PGPI, KWI. Sehingga semuanya dapat kembali jernih,’’ katanya.

Bahwa, kata Sutrsino, dalam waktu yang berdekatan, warga negara Indonesia baru saja merayakan Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah. Maka dari itu, menurutnya, kasih persaudaraan, perdamaian, harus menjadi puncak dari semua perayaan tersebut. Kasih sebagai solidaritas lintas batas, memaafkan dan melupakan adalah puncak dari kasih. (Id144)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |