Ilusi Profit dalam Sistem Trading Kripto Tertutup, Mengapa Janji Keuntungan Pasti di Dunia Kripto Perlu Diwaspadai

1 hour ago 2

Oleh: Dr. M. Irsan Nasution, SE., Ak., CA., M.Ak., CIPSAS., Asean CPA, QRMO

Pendahuluan
Dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan pasar saham Indonesia cenderung tidak menentu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap mengalami naik-turun tajam akibat berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, arah kebijakan suku bunga, tekanan inflasi, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik. Situasi ini membuat banyak investor bersikap lebih hati-hati karena arah pergerakan harga saham menjadi semakin sulit diprediksi, terutama bagi investor ritel.

Kondisi pasar yang bergejolak tersebut mendorong sebagian investor, khususnya pemula, untuk mencari alternatif investasi lain yang dianggap mampu memberikan hasil lebih cepat. Dalam situasi seperti ini, godaan terhadap instrumen berisiko tinggi menjadi semakin besar. Aset kripto dan berbagai platform trading digital yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat pun mulai dilirik, sering kali tanpa disertai pemahaman risiko yang memadai.

Padahal, pendekatan investasi yang lebih bijak justru menekankan pentingnya diversifikasi portofolio. Investor sebaiknya tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen saja. Sebagian dana dapat dialokasikan pada saham dengan fundamental yang kuat, sementara sisanya ditempatkan pada instrumen yang relatif lebih stabil atau berfungsi sebagai penyeimbang risiko, seperti emas, obligasi pemerintah, instrumen pasar uang, dan dalam porsi terbatas aset kripto.

Strategi ini bertujuan menjaga keseimbangan portofolio dan meminimalkan dampak kerugian ketika pasar sedang tertekan.

Di sisi lain, kemudahan berinvestasi melalui ponsel pintar, maraknya promosi di media sosial, serta narasi tentang peluang keuntungan besar dalam waktu singkat membuat aset kripto tampak sangat menarik. Bagi investor yang baru terjun ke dunia investasi, kripto sering dipersepsikan sebagai jalan pintas menuju keuntungan. Secara konsep, aset kripto memang hadir sebagai inovasi keuangan digital yang menawarkan efisiensi transaksi dan teknologi desentralisasi. Namun, karakteristik tersebut juga membuka celah bagi penyalahgunaan teknologi. Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa meningkatnya minat investor ritel terhadap aset digital berjalan seiring dengan melonjaknya kasus penipuan kripto.

Seiring meningkatnya antusiasme masyarakat, pola penipuan di sektor kripto pun semakin beragam dan sulit dikenali. Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah sistem trading tertutup, yaitu platform yang tidak memberikan akses terbuka untuk memeriksa harga, volume transaksi, maupun likuiditas aset secara independen. Platform semacam ini kerap menampilkan klaim keuntungan tinggi dalam waktu singkat, tetapi seluruh aktivitas perdagangannya tidak bisa diverifikasi melalui sumber luar. Inilah yang melahirkan ilusi profit, keuntungan yang terlihat nyata di layar aplikasi, namun sebenarnya tidak pernah terjadi di pasar yang sesungguhnya.

Apa Itu Ilusi Profit?
Ilusi profit adalah kondisi ketika investor melihat saldo dan keuntungan yang terus meningkat di layar aplikasi, padahal keuntungan tersebut tidak berasal dari transaksi nyata di pasar terbuka. Angka-angka yang terlihat meyakinkan tersebut sepenuhnya dikendalikan oleh sistem internal platform, bukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran yang sebenarnya.

Ciri Umum Sistem Trading Tertutup
Sistem trading tertutup umumnya memiliki beberapa ciri khas. Pertama, aset atau token yang diperdagangkan tidak terdaftar di bursa kripto resmi atau situs pemantau harga publik. Kedua, investor tidak dapat memeriksa transaksi melalui blockchain publik. Ketiga, keuntungan ditampilkan stabil dan konsisten, bahkan saat pasar global sedang bergejolak. Keempat, seluruh informasi hanya berasal dari satu aplikasi atau grup komunikasi tertentu.

Bentuk fraud kripto
Penipuan dalam dunia kripto memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan penipuan keuangan tradisional. Jika dalam sistem perbankan terdapat pengawasan ketat dan identitas yang jelas, maka dalam ekosistem kripto banyak transaksi dilakukan secara anonim dan lintas negara. Hal ini menyulitkan pelacakan dan penegakan hukum ketika terjadi penipuan. Beberapa bentuk fraud kripto yang umum meliputi:
• Skema Ponzi, di mana keuntungan investor lama dibayar dari dana investor baru.
• Fake exchange, yaitu platform palsu yang meniru tampilan bursa kripto resmi.
• Manipulasi perdagangan, termasuk pengaturan harga dan volume palsu.
Sistem trading tertutup sering kali menggabungkan ketiga unsur tersebut. Investor merasa sedang melakukan trading aktif, padahal seluruh aktivitas berada dalam sistem internal yang sepenuhnya dikendalikan oleh pelaku scam.

Mengapa Leverage Tinggi Perlu Diwaspadai
Dalam praktik trading yang sehat dan wajar, penggunaan leverage tidak diberikan secara bebas. Leverage tinggi biasanya hanya tersedia untuk aset besar dan sangat likuid, seperti Bitcoin atau Ethereum, yang pergerakan harganya relatif lebih stabil dan mudah dipantau. Sementara itu, untuk koin berkapitalisasi kecil, leverage yang diizinkan umumnya jauh lebih rendah karena risikonya sangat tinggi. Pembatasan ini dibuat bukan untuk membatasi keuntungan investor, melainkan untuk mencegah kerugian besar akibat pergerakan harga yang ekstrem.

Masalah muncul ketika leverage tinggi justru dipromosikan secara agresif pada aset kecil yang tidak likuid. Dalam sistem semacam ini, leverage ditampilkan seolah-olah sebagai alat untuk mempercepat keuntungan, padahal fungsinya lebih sering untuk mempercepat kerugian. Sedikit pergerakan harga saja sudah cukup untuk menghabiskan saldo investor melalui likuidasi. Ketika hal itu terjadi, kerugian sering kali dianggap sebagai risiko pasar atau kesalahan strategi pribadi, bukan sebagai akibat dari sistem yang dirancang tidak adil. Dengan cara ini, leverage ekstrem menjadi alat yang menutupi rekayasa sistem trading tertutup dan secara perlahan mengalihkan seluruh risiko kepada investor.

Kenapa Harga Terlihat Stabil, Padahal Pasarnya Tidak Ada?
Salah satu ciri paling berbahaya dari sistem trading tertutup adalah penggunaan token atau aset yang tidak terdaftar di bursa kripto resmi maupun situs pemantau harga publik. Ketika sebuah token tidak bisa ditemukan di platform data yang kredibel, investor sebenarnya tidak memiliki cara untuk mengecek apakah harga, volume transaksi, dan likuiditas aset tersebut benar-benar ada. Seluruh angka yang tampil di aplikasi sepenuhnya bergantung pada sistem internal penyelenggara. Artinya, harga yang terlihat bukan hasil dari mekanisme pasar yang wajar, melainkan angka yang bisa diatur dari dalam aplikasi itu sendiri.

Situasi ini menciptakan ilusi seolah-olah harga bergerak stabil dan keuntungan terus terbentuk secara alami. Padahal, kestabilan tersebut justru menjadi tanda bahaya karena harga dapat disesuaikan mengikuti cerita yang ingin dibangun oleh pengelola platform. Investor pun cenderung merasa aman dan percaya bahwa sistem tersebut “terkendali”, sehingga risiko dianggap rendah. Perlahan, kondisi ini memicu rasa percaya diri berlebihan dan membuat investor semakin jarang mempertanyakan keabsahan data yang ditampilkan. Dalam jangka pendek, pola ini efektif menarik dan menahan pengguna, tetapi dalam jangka panjang seluruh risiko ditanggung investor karena harga dan keuntungan yang terlihat sejak awal sebenarnya tidak pernah terbentuk di pasar nyata.

Manipulasi Visual dan Narasi Profit
Salah satu cara paling efektif yang digunakan dalam sistem trading tertutup untuk menarik kepercayaan investor adalah melalui tampilan visual yang meyakinkan. Aplikasi dirancang menyerupai bursa kripto resmi, lengkap dengan grafik harga, riwayat transaksi, dan berbagai indikator teknikal. Ditambah lagi dengan screenshot profit yang terlihat konsisten dan terus bertambah, semua ini menciptakan kesan bahwa sistem bekerja secara profesional dan aman. Padahal, tampilan tersebut sering kali menggantikan hal yang jauh lebih penting, yaitu transparansi transaksi, kejelasan likuiditas, dan adanya pengawasan atau audit yang bisa diverifikasi secara independen.

Masalahnya, narasi profit yang disampaikan lewat tampilan visual ini memanfaatkan kecenderungan investor untuk percaya pada apa yang terlihat dan apa yang dilakukan orang lain. Ketika keuntungan terus ditampilkan berulang-ulang, investor cenderung mengabaikan pertanyaan mendasar seperti dari mana profit itu berasal dan apakah datanya bisa dicek di luar aplikasi. Perlahan, rasa percaya tumbuh bukan karena sistemnya benar-benar transparan, tetapi karena visual yang tampak konsisten. Pada titik ini, kebutuhan akan verifikasi dan akuntabilitas mulai tergeser oleh keyakinan subjektif, sehingga investor semakin mudah terjebak dalam ilusi profit yang dibangun oleh sistem.

Hambatan Penarikan Dana
Tahap penarikan dana (withdrawal) merupakan titik kritis dalam skema scam berbasis sistem trading tertutup karena pada fase inilah legitimasi sistem diuji secara nyata oleh pengguna. Berbagai alasan administratif, seperti proses verifikasi berlapis, kewajiban pembayaran pajak, biaya aktivasi, atau pembaruan akun, digunakan untuk menunda atau menggagalkan penarikan dana. Alasan-alasan tersebut umumnya disampaikan tanpa dasar regulasi yang jelas dan tidak dapat diverifikasi melalui otoritas atau mekanisme independen. Dalam praktiknya, hambatan ini menciptakan ilusi prosedural yang seolah-olah mencerminkan kepatuhan sistem terhadap aturan, padahal berfungsi sebagai alat pengendalian akses dana pengguna.

Lebih jauh, hambatan penarikan dana tidak hanya bertujuan menahan dana yang telah disetor, tetapi juga mendorong korban untuk melakukan setoran tambahan melalui mekanisme escalation of commitment. Pengguna yang telah memperoleh keuntungan secara visual atau nominal semu cenderung bersedia memenuhi permintaan biaya tambahan dengan harapan dapat mengamankan dana yang “sudah dihasilkan”. Pada tahap ini, kerugian korban sering kali dikonstruksikan sebagai kegagalan administratif atau kesalahan prosedural pengguna, bukan sebagai indikasi kegagalan sistem. Dengan demikian, hambatan penarikan dana berfungsi sebagai mekanisme terakhir dalam skema scam untuk memaksimalkan ekstraksi dana sebelum hubungan antara pengguna dan platform terputus.

Contoh Kasus Nyata
Kasus 1 – Profit Konsisten Tanpa Risiko
Pada tahap awal, investor pemula bergabung ke dalam sebuah grup trading yang menjanjikan keuntungan harian tetap dengan risiko yang diklaim sangat rendah. Sistem ini biasanya diawali dengan setoran dana dalam jumlah relatif kecil. Dalam aplikasi, investor dapat melihat saldo yang terus meningkat secara konsisten setiap hari, bahkan pada saat kondisi pasar sedang tidak menentu. Tampilan tersebut menimbulkan kesan bahwa sistem trading yang digunakan stabil, profesional, dan mampu mengelola risiko dengan baik.

Yang membuat skema ini tampak semakin meyakinkan adalah pada fase awal investor masih dapat melakukan penarikan dana. Permintaan penarikan biasanya diproses dengan cepat dan tanpa hambatan, meskipun hanya dalam jumlah kecil. Keberhasilan penarikan ini menjadi faktor kunci yang membangun rasa aman dan kepercayaan. Investor kemudian meyakini bahwa platform tersebut benar-benar membayar dan bukan sekadar menampilkan angka di layar.

Setelah kepercayaan terbentuk, investor cenderung meningkatkan jumlah dana yang disetorkan. Pada tahap ini, keuntungan harian tetap terus ditampilkan, sehingga investor merasa tidak ada alasan untuk ragu. Namun, ketika investor mencoba menarik dana dalam jumlah yang lebih besar, mulai muncul berbagai alasan administratif, seperti proses verifikasi tambahan, kewajiban membayar biaya layanan, pajak, atau syarat saldo minimum tertentu sebelum penarikan dapat dilakukan.

Seiring berjalannya waktu, hambatan penarikan menjadi semakin kompleks dan berulang. Investor diminta melakukan setoran tambahan dengan janji bahwa dana akan dapat ditarik setelah persyaratan tersebut dipenuhi. Pada titik ini, sebagian investor masih bertahan karena terdorong oleh keyakinan bahwa dana dan keuntungan yang terlihat di aplikasi adalah nyata dan tinggal menunggu proses administrasi selesai.

Akhir dari skema ini biasanya ditandai dengan pembekuan akun, penutupan akses aplikasi, atau hilangnya komunikasi dari pihak pengelola. Dana yang sebelumnya terlihat terus bertambah tidak pernah benar-benar dapat dicairkan. Dengan demikian, profit konsisten yang sejak awal ditampilkan bukanlah hasil dari aktivitas perdagangan nyata, melainkan bagian dari strategi untuk menciptakan ilusi keamanan dan mendorong investor menyetor dana dalam jumlah yang semakin besar.

Kasus 2 – Leverage Tinggi dan Likuidasi Cepat
Pada tahap awal, investor biasanya diperlihatkan hasil yang sangat meyakinkan. Melalui transaksi awal dengan nominal relatif kecil, investor ditunjukkan bahwa dalam waktu singkat, bahkan hanya dalam hitungan belasan hingga puluhan menit, saldo dapat meningkat secara signifikan.

Tampilan grafik yang bergerak cepat, notifikasi keuntungan yang terus muncul, serta narasi bahwa “momentum pasar sedang bagus” menciptakan kesan bahwa peluang ini jarang terjadi dan tidak boleh dilewatkan. Pada titik inilah rasa fear of missing out (FOMO) mulai terbentuk, yaitu ketakutan investor akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan besar jika tidak segera bertindak.

Seiring dengan munculnya FOMO, keberhasilan awal tersebut secara perlahan membangun rasa percaya diri berlebihan (overconfidence). Investor mulai merasa bahwa ia telah memahami pola pergerakan pasar dan menguasai cara kerja sistem trading yang digunakan. Keuntungan awal yang sebenarnya masih bersifat semu ini sering ditafsirkan sebagai bukti kemampuan pribadi, bukan sebagai hasil pengaturan sistem.

Kondisi psikologis tersebut membuat investor lebih berani mengambil risiko yang lebih besar tanpa melakukan verifikasi yang memadai.
Dalam fase selanjutnya, platform menawarkan penggunaan leverage yang jauh lebih tinggi dengan alasan untuk mempercepat pertumbuhan saldo. Investor diyakinkan bahwa leverage besar hanyalah alat untuk “mengoptimalkan peluang” dan bahwa risiko dapat dikelola karena sistem dianggap sudah terbukti menghasilkan keuntungan. Dorongan FOMO dan overconfidence membuat investor cenderung menambah dana serta membuka posisi yang jauh lebih besar dari kemampuan risikonya.

Masalah muncul ketika posisi trading dengan leverage ekstrem tersebut dibuka pada instrumen yang tidak memiliki likuiditas dan harga yang dapat diverifikasi secara publik. Dalam waktu sangat singkat, saldo investor langsung habis akibat likuidasi. Platform kemudian menyampaikan bahwa kerugian tersebut adalah konsekuensi wajar dari volatilitas pasar dan risiko leverage tinggi. Penjelasan ini sering diterima begitu saja oleh investor karena sejak awal ia telah dibentuk untuk percaya bahwa kerugian adalah bagian normal dari trading.

Padahal, pergerakan harga yang menjadi dasar likuidasi tersebut tidak dapat dikonfirmasi melalui sumber pasar independen. Investor tidak memiliki cara untuk memastikan apakah perubahan harga benar-benar terjadi di pasar terbuka atau justru dikendalikan secara internal oleh sistem. Dengan demikian, kerugian yang dialami bukan semata-mata akibat risiko pasar, melainkan sangat mungkin merupakan hasil dari kombinasi manipulasi sistem trading tertutup dan eksploitasi kondisi psikologis investor melalui FOMO dan overconfidence.

Kasus 3 – Token Internal (Aset Palsu dalam Sistem Tertutup)
Kasus ini biasanya diawali dengan penawaran token atau aset digital yang diklaim sebagai produk eksklusif dari sebuah platform trading. Investor diberi penjelasan bahwa token tersebut hanya tersedia di dalam aplikasi dan belum diperdagangkan secara luas karena masih berada pada tahap awal pengembangan. Narasi yang digunakan sering kali menyebutkan bahwa investor yang masuk lebih awal akan memperoleh keuntungan besar ketika token tersebut nantinya “listing” di bursa kripto resmi.

Setelah investor membeli token tersebut, harga token di dalam aplikasi terlihat mengalami kenaikan yang sangat signifikan dalam waktu singkat. Kenaikan harga ini ditampilkan secara konsisten melalui grafik dan saldo akun, sehingga investor merasa nilai asetnya terus bertambah. Pada tahap ini, investor umumnya tidak menyadari bahwa harga token sepenuhnya dikendalikan oleh sistem internal dan tidak terbentuk melalui mekanisme pasar yang sebenarnya.

Seiring dengan meningkatnya nilai token di aplikasi, investor mulai terdorong untuk menambah kepemilikan atau mengajak pihak lain untuk ikut berinvestasi. Beberapa platform bahkan memberikan insentif tambahan, seperti bonus token atau komisi referral, untuk mendorong penyebaran informasi. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa token tersebut memiliki prospek cerah dan potensi keuntungan jangka panjang.

Masalah mulai muncul ketika investor mencoba menjual token atau memindahkannya ke dompet kripto pribadi. Investor mendapati bahwa token tersebut tidak dapat ditransfer ke luar aplikasi dan tidak terdaftar di bursa kripto mana pun. Setiap upaya penjualan biasanya diarahkan kembali ke sistem internal, sering kali dengan syarat tertentu atau penundaan yang tidak jelas. Pada titik ini, investor mulai menyadari bahwa likuiditas token tersebut sebenarnya tidak pernah ada.

Tahap akhir dari kasus ini biasanya terjadi ketika sistem trading dihentikan secara sepihak, aplikasi tidak dapat diakses, atau pengelola menghilang tanpa pemberitahuan. Token yang sebelumnya terlihat memiliki nilai tinggi di layar aplikasi menjadi tidak bernilai sama sekali karena tidak ada pasar nyata yang memperdagangkannya. Dengan demikian, seluruh kenaikan harga yang ditampilkan sejak awal hanyalah ilusi, bukan cerminan nilai ekonomi yang sesungguhnya.

Mengapa Penarikan Dana Sering Bermasalah?
Masalah biasanya muncul saat investor mencoba menarik dana. Berbagai alasan administratif seperti biaya verifikasi, pajak, atau syarat saldo minimum digunakan untuk menunda pencairan dana. Pada tahap ini, investor sering diminta menyetor dana tambahan dengan janji penarikan akan segera diproses. Sayangnya, dana tersebut hampir tidak pernah benar-benar bisa dicairkan.

Mengapa Korban Jarang Melapor?
Banyak korban penipuan kripto memilih diam. Rasa malu, anggapan bahwa kerugian adalah kesalahan pribadi, serta kerugian yang terjadi secara bertahap membuat korban sering baru sadar setelah dana yang hilang cukup besar. Inilah sebabnya edukasi jauh lebih penting daripada menyalahkan korban.

Penutup
Scam kripto jarang terlihat sebagai penipuan sejak awal. Ia tampil rapi, profesional, dan meyakinkan. Dengan memahami konsep ilusi profit dan mengenali tanda-tanda sistem trading tertutup, masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak dan terhindar dari kerugian. WASPADA.id

Penulis adalah seorang akademisi dan pengamat masalah sosial, investasi, dan literasi keuangan.

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |