Minyak Mulai Memanas, Brent Tembus US$83

14 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (7/8/2026) pagi seiring kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap kelancaran lalu lintas energi di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Berdasarkan Refinitiv hingga pukul 09.05 WIB, harga minyak Brent berada di US$83,21 per barel, naik 0,87% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di US$82,49 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,75% menjadi US$77,87 per barel dari US$77,29 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang reli minyak setelah sehari sebelumnya kedua kontrak melonjak lebih dari US$3 per barel.

Sentimen utama datang dari perkembangan terbaru di Selat Hormuz. Iran bersama Oman sedang membahas aturan baru yang berpotensi membatasi kapal-kapal yang dianggap bermusuhan untuk melintas di jalur tersebut. Rancangan aturan itu bahkan memuat usulan denda hingga 20% dari nilai muatan bagi kapal yang melanggar.

Selain itu, Iran mengusulkan pungutan sekitar 5%-7% dari nilai kargo bagi kapal yang melewati Selat Hormuz. Oman dikabarkan mengusulkan tarif sekitar 3%, sedangkan Amerika Serikat menginginkan lalu lintas tetap bebas tanpa pungutan.

Rencana tersebut memicu keraguan pelaku pasar terhadap prospek normalisasi pengiriman minyak. Empat sumber industri yang dikutip Reuters menyebut skema tersebut sulit diterapkan karena masih terbentur sanksi Amerika Serikat terhadap Iran serta klausul asuransi yang membatasi mekanisme pembayaran.

Analis pasar utama KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan pasar masih menyimpan keraguan terhadap efektivitas kesepakatan baru karena sebelumnya sudah ada upaya serupa yang hanya bertahan sementara. Kondisi itu membuat harga minyak tetap memperoleh dukungan.

Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali bertambah setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone ke posisi Saudi di wilayah Marib dan Hadramout pada Kamis.

Sebelumnya harga minyak sempat tertekan pada awal pekan karena muncul harapan adanya solusi atas konflik yang berlangsung sejak akhir Februari. Namun, perkembangan terbaru membuat premi risiko geopolitik kembali masuk ke pasar. Brent pun kembali bertahan di atas US$80 per barel setelah sempat turun di bawah level tersebut untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.

Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perang diyakini akan segera berakhir, pelaku pasar masih menunggu kepastian mengenai implementasi aturan pelayaran di Selat Hormuz. Selama jalur strategis tersebut masih dibayangi ketidakpastian, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |