Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang menganggap keberuntungan adalah sebuah "hadiah dari langit" yang hanya jatuh pada orang-orang tertentu. Di Indonesia, orang yang sering mendapat keberuntungan sering disebut 'bejo'. Namun, Dr. Tina Seelig, seorang neurosaintis dan profesor dari Stanford University menegaskan, keberuntungan bukanlah kebetulan semata, melainkan sebuah keterampilan yang bisa dipelajari.
Dalam wawancara di The Mel Robbins Podcast, Dr. Seelig membedakan dua konsep yang sering tertukar, yaitu nasib dan keberuntungan. Dr. Seelig bilang, nasib atau fortune adalah hal-hal yang terjadi di luar kendali kita, seperti di mana kita dilahirkan, siapa orang tua kita, atau kejadian bencana alam.
Sebaliknya, keberuntungan adalah hasil dari bagaimana kita merespons peluang yang ada di sekitar kita.
"Di permukaan, keberuntungan tampak seperti kebetulan. Namun jika ditelusuri ke bawah, sebenarnya ada tindakan-tindakan yang Anda lakukan untuk mengundang keberuntungan tersebut datang," jelas Dr. Seelig dikutip dari YouTube @melrobbins, Selasa (11/8/2026).
Dr. Seelig menggunakan analogi angin untuk menggambarkan peluang. Peluang itu, kata ia, ada di mana-mana seperti angin yang selalu bertiup.
Namun, untuk memanfaatkannya Anda memerlukan "layar". Ia membagi tipe orang dalam menjemput peluang menjadi beberapa kategori:
- Si Penghuni Rumah: Mereka yang menutup jendela dan tidak menyadari ada peluang.
- Si Penunjuk Arah Angin: Mereka yang sadar ada peluang, tapi hanya diam melihatnya lewat.
- Si Balon Udara: Mereka yang pasrah mengikuti ke mana pun angin membawa mereka tanpa kendali.
- Si Perahu Layar: Tipe ideal yang secara aktif mencari angin untuk mencapai tujuan tertentu.
Jika Anda merasa kurang beruntung belakangan ini, Dr. Seelig menyarankan tiga langkah konkret untuk membangun "perahu layar" keberuntungan Anda sendiri:
1. Membangun Fondasi Internal: Kenali value atau nilai-nilai inti dan tujuan hidup Anda. Tanpa ini, Anda akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh orang lain.
2. Membangun Tim: Keberuntungan jarang datang saat kita sendirian. Berinteraksilah dengan orang lain, jangan ragu meminta bantuan, dan yang terpenting: ringankan tangan untuk membantu orang lain. "Sifat dermawan adalah magnet keberuntungan," tambahnya.
3. Berani Mengambil Risiko: Mulailah dari risiko kecil, baik secara intelektual, financial maupun sosial. Dr. Seelig memberikan contoh sederhana, seperti mencoba menyapa orang baru di antrean kopi atau memberikan pujian jujur kepada orang asing.
Tindakan kecil ini mengaduk kuah kehidupan dan membuka pintu peluang baru. Dr. Seelig berpesan, keberuntungan mirip dengan investasi uang. Anda tidak bisa berharap langsung kaya dalam semalam. Anda harus mulai melakukan setoran kecil setiap hari melalui tindakan-tindakan positif.
"Ingatlah, kita selalu hanya berjarak satu keputusan dari kehidupan yang sama sekali berbeda. Ambil tindakan hari ini, dan lihat bagaimana keberuntungan akan berlipat ganda di masa depan," kata ia.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

6 hours ago
2

















































