Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengungkapkan hilirisasi yang kini digaungkan oleh pemerintah bukan hanya sebatas membangun smelter, melainkan memperkuat struktur industri nasional. Melalui hilirisasi kekayaan sumber daya alam bisa ditingkatkan menjadi keunggulan industri.
"Tujuan akhir hilirisasi bukan hanya segera membangun smelter. Tujuannya adalah membangun struktur industri nasional yang kuat dan mandiri," kata Todotua dalam acara Mindialogue 2026: Mineral untuk Stabilitas Ekonomi RI, (Rabu 12/8/2026).
"Keunggulan industri menjadi keunggulan teknologi, dan keunggulan teknologi menjadi kekuatan, serta kedaulatan ekonomi Indonesia," tambahnya.
Todotua mengatakan hilirisasi menjadi langkah strategis karena bukan hanya dari sisi volume, melainkan juga menciptakan nilai tambah. Meski demikian, dia mengakui masih ada tantangan yang dihadapi untuk merealisasikan hilirisasi, yakni struktur biaya yang tinggi. Pasalnya, jika hilirisasi dijalankan namun tidak berdaya saing malahan akan menjadi persoalan besar.
"Bagaimana caranya memitigasi cost terhadap hilirisasi, karena akan menjadi omong kosong kalau kita memaksakan hilirisasi, tetapi tidak mempunyai daya saing," tegas Todotua.
Untuk itu, harus ada mitigasi strategi penggunaan energi, logistik, hingga rantai pasok yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah besar. Todotua juga mengatakan kontribusi investasi di bidang hilirisasi saat ini mencapai 29,7% dari total realisasi investasi Semester I-2026. Menurutnya, peningkatan investasi pada program hilirisasi menjadi andalan untuk menuju pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.
Berdasarkan bahan paparannya, sektor mineral masih menjadi tulang punggung investasi hilirisasi dengan nilai mencapai Rp206,5 triliun sepanjang semester I-2026. Investasi tersebut berasal dari hilirisasi di sektor strategis.
Misalnya seperti nikel sebesar Rp71 triliun, bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi dan baja Rp30,2 triliun, pasir silika Rp5,9 triliun, serta berbagai komoditas mineral lainnya senilai Rp8,2 triliun. Namun yang menarik, peta investasi hilirisasi mengalami perubahan pada kuartal II-2026. Untuk pertama kalinya, bauksit menggeser dominasi nikel sebagai komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2

















































