Pesta Bir di Final Piala Dunia 2026, Sahamnya Beda Nasib

23 hours ago 8

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

19 July 2026 20:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Final Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi salah satu momen konsumsi bir terbesar tahun ini. Namun menariknya, saham produsen bir dunia justru bergerak tidak searah sepanjang turnamen.

Pada laga puncak Piala Dunia 2026 Argentina akan menghadapi Spanyol di New York New Jersey Stadium, Minggu 19 Juli 2026 pukul 15.00 waktu setempat atau Senin 20 Juli pukul 02.00 WIB.

Konsumsi Bir Global Diperkirakan Bertambah

Jefferies memperkirakan Piala Dunia 2026 menghasilkan tambahan konsumsi bir global sekitar 568 juta liter atau setara 1 miliar pint. Tambahan tersebut setara dengan kenaikan 0,3% terhadap volume industri bir dunia sepanjang 2026.

Angka tersebut bukan total bir yang diminum selama turnamen, melainkan konsumsi tambahan dibandingkan kondisi normal tanpa Piala Dunia. Jika dibagi sepanjang 39 hari turnamen, tambahan konsumsinya mencapai sekitar 14,6 juta liter per hari.

Data aktual di Amerika Serikat memperkuat perkiraan tersebut. Dalam empat pekan pertama, penjualan bir di kota tuan rumah meningkat 14% secara tahunan, sedangkan penjualan nasional naik 4%.

FIFA juga melaporkan lebih dari 5 juta bir telah terjual di area pertandingan hingga fase 16 besar. Angka itu belum memasukkan konsumsi di bar, restoran, hotel, rumah, dan acara nonton bareng di seluruh dunia.

Saham Bir Terbelah Jelang Final

Pergerakan berikut dihitung sejak penutupan 10 Juni, sehari sebelum pertandingan pembuka, sampai 17 Juli 2026, perdagangan terakhir sebelum final.

Kinerja saham menunjukkan bahwa besarnya manfaat penjualan selama Piala Dunia tidak otomatis sejalan dengan return bursa. AB InBev diperkirakan memperoleh tambahan volume paling tinggi karena berstatus sponsor resmi dan memiliki jaringan kuat di ketiga negara tuan rumah. Perusahaan mengadakan 200.000 pesta nonton bareng di lebih dari 40 negara.

Meski demikian, saham BUD turun tipis. Salah satu tekanan datang setelah Brasil dan Meksiko tersingkir pada 5 Juli. Saham BUD turun 2,4% pada perdagangan berikutnya, sedangkan Constellation anjlok 4,94%.

Pasar mengkhawatirkan berkurangnya konsumsi di Brasil, Meksiko, dan komunitas Hispanik Amerika Serikat.

Sebaliknya, kenaikan Heineken dan Carlsberg lebih banyak didukung kinerja fundamental, produk premium, minuman non-alkohol, dan diversifikasi geografis. Karena itu, reli keduanya tidak dapat diklaim sepenuhnya sebagai "efek Piala Dunia".

Reaksi Final Baru Terlihat Senin

Harga saham dalam tabel belum mencerminkan pertandingan Argentina melawan Spanyol karena bursa tutup pada akhir pekan. Reaksi investor baru terlihat ketika pasar Eropa dibuka Senin sore WIB dan Wall Street dibuka Senin malam WIB.

Final berpeluang kembali menaikkan penjualan harian, terutama karena Argentina merupakan pasar penting AB InBev dan Ambev, sedangkan Spanyol menjadi salah satu pasar pertumbuhan Heineken di Eropa. Namun, hasil pertandingan kemungkinan hanya memberi pengaruh jangka pendek.

Penentu berikutnya adalah laporan keuangan yang mencakup Juni dan Juli. Dari laporan tersebut baru dapat diketahui apakah tambahan konsumsi 568 juta liter benar-benar berubah menjadi pertumbuhan pendapatan, volume, margin, dan laba perusahaan.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |