Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus mendorong penggunaan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) sebagai strategi memperkuat ketahanan ekonomi di tengah dinamika global. Langkah ini dinilai semakin relevan seiring struktur perdagangan Indonesia yang didominasi mitra non-dolar, sehingga membuka peluang besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang utama seperti dolar AS.
Berdasarkan data terbaru, kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan tren positif. Pada Februari 2026, surplus tercatat sekitar US$1,27 miliar, terutama ditopang ekspor nonmigas seperti batu bara, minyak sawit, serta besi dan baja. Kondisi ini menjadi fondasi kuat bagi perluasan implementasi LCT dalam transaksi lintas negara.
Pemerintah melihat adopsi LCT terus mengalami perkembangan, meski kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini masih berkisar 10% hingga 19% dari total transaksi. Angka tersebut menunjukkan adanya ruang ekspansi yang cukup besar, terutama jika didorong lebih agresif melalui kebijakan dan insentif.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan menegaskan pentingnya peran LCT dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ia menyampaikan bahwa pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperkuat kerangka kerja sama ini dalam forum internasional.
"Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi," ujar Ferry.
Sejak diperkenalkan pada 2018, implementasi LCT di Indonesia terus meluas ke berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga jasa. Selain itu, kerja sama juga telah terjalin dengan sejumlah negara mitra utama seperti Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Perkembangan ini tercermin dari lonjakan nilai transaksi dalam dua bulan pertama tahun 2026. Pemerintah mencatat nilai transaksi LCT mencapai sekitar US$8,45 miliar pada periode Januari hingga Februari, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$3,21 miliar.
Tak hanya dari sisi nilai, jumlah pengguna juga mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga Februari 2026, jumlah pengguna tercatat mencapai 14.621, dengan rata-rata bulanan sekitar 16.030 pengguna. Angka ini jauh melampaui rata-rata sepanjang 2025 yang berada di kisaran 9.720 pengguna.
"Transaksi LCT telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam nilai, partisipasi, dan adopsi pasar. Pada Januari-Februari 2026, nilai transaksi mencapai sekitar USD8,45 miliar, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar USD3,21 miliar pada. Pertumbuhan ini juga didukung peningkatan jumlah pengguna yang mencapai 14.621 pada Februari 2026, dengan rata-rata 16.030 pengguna per bulan, jauh di atas rata-rata bulanan tahun 2025 sebesar 9.720 pengguna," jelas Ferry.
Dalam praktiknya, LCT memungkinkan pelaku usaha menyelesaikan transaksi lintas negara langsung menggunakan mata uang lokal masing-masing, tanpa perlu konversi ke dolar AS. Skema ini dinilai mampu menekan biaya transaksi sekaligus mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
Untuk mempercepat implementasi, pemerintah juga telah membentuk Gugus Tugas Nasional LCT yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi kebijakan serta mendorong adopsi lebih luas, khususnya dalam aktivitas ekspor-impor.
Selain itu, pemerintah berkomitmen memberikan berbagai kemudahan bagi pelaku usaha, mulai dari penyederhanaan proses hingga pemberian insentif. Tujuannya agar penggunaan mata uang lokal semakin kompetitif dan menarik bagi dunia usaha.
"Pengembangan LCT merupakan langkah konkret dan strategis menuju peningkatan efisiensi, pengurangan kerentanan eksternal, dan penguatan kerja sama keuangan multilateral. Melalui kolaborasi berkelanjutan antara Pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku bisnis, kita dapat membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh, terintegrasi, dan berkelanjutan," pungkas Ferry.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
2
















































