Jakarta, CNBC Indonesia - Selama ini kita hanya tahu bahwa manusia modern (Homo sapiens) dan Neanderthal sempat memiliki hubungan biologis, terbukti dari sisa DNA leluhur tersebut yang masih tersimpan dalam tubuh kita hingga kini. Namun, temuan arkeologi terbaru mengungkap kenyataan yang jauh lebih luas dan mengejutkan. Kedua spesies ini tak sekadar bertemu atau kawin, melainkan hidup berdampingan dan membangun kesinambungan budaya selama puluhan ribu tahun.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences dan dilaporkan oleh Live Science mengubah pandangan lama yang menganggap Neanderthal sebagai makhluk yang hidup terpisah, saingan, bahkan musuh bagi nenek moyang manusia.
Riset dipimpin oleh arkeolog İsmail Baykara dari Universitas Gaziantep, Turki, berfokus pada penggalian di Gua Üçağızlı II. Di Lokasi ini ada jejak hunian manusia sejak 77.000 tahun silam. Di lapisan tanah yang berbeda, ditemukan sisa peralatan, tulang hewan buruan, dan barang koleksi yang dibuat dan digunakan oleh kedua kelompok baik Homo sapiens maupun Neanderthal, dengan kesamaan yang luar biasa.
Peneliti menemukan bahwa penghuni gua menggunakan teknologi alat batu yang serupa. Kedua spesies membuat peralatan tajam dengan teknik yang sama, yang dikenal sebagai gaya Mousterian, menunjukkan adanya pertukaran pengetahuan.
Persamaan lainnya adalah dalam strategi berburu yaitu sama-sama mengincar hewan seperti kambing liar, rusa, dan babi hutan. INi mengindikasikan cara bertahan hidup yang serupa di lingkungan yang sama. Kemudian, dalam simbol dan budaya. Temuan paling mencolok adalah kerang laut jenis Columbella rustica. Ukurannya terlalu kecil untuk dimakan, sehingga diduga dipakai sebagai hiasan atau tanda identitas.
Hal ini ditemukan pada lapisan hunian Neanderthal maupun manusia modern, menunjukkan adanya kesamaan tradisi budaya.
"Temuan kami menguatkan dugaan bahwa Neanderthal dan Homo sapiens tidak sekadar berbagi wilayah, tetapi kemungkinan besar saling berinteraksi dan mewariskan tradisi budaya dalam jangka waktu yang panjang," jelas Baykara.
Jejak lain ditemukan di Gua Tinshemet, Israel. Di sana, para peneliti menemukan bahwa kedua kelompok tak hanya bertukar alat, tetapi juga memiliki kebiasaan yang sama dalam menguburkan jenazah dan menggunakan zat pewarna alami untuk keperluan seremonial. Kesinambungan ini berlangsung stabil selama sekitar 50.000 tahun.
Artinya, hubungan antara Homo sapiens dan Neanderthal bukan sekadar pertemuan sesekali atau persaingan memperebutkan sumber daya. Ada proses adaptasi, komunikasi, dan hidup berdampingan yang membentuk satu jaringan budaya yang saling terhubung.
Selama ini, Neanderthal sering digambarkan sebagai spesies yang "kalah" dan punah karena ketidakmampuan bersaing dengan manusia modern. Namun, temuan baru ini melukiskan gambaran kehidupan damai dan penuh kerja sama. Kepunahan Neanderthal kemungkinan besar disebabkan oleh perubahan iklim drastis dan pergeseran populasi, bukan karena perang atau kekalahan dari manusia.
"Seni bertahan hidup manusia ternyata tidak hanya soal kekuatan fisik atau kecerdasan semata, melainkan kemampuan berhubungan dan berbagi dengan sesama-bahkan dengan spesies yang berbeda," tulis tim peneliti dalam laporannya.
Dengan penemuan ini, sejarah perjalanan manusia harus ditulis ulang. Cerita tentang asal-usul kita bukan lagi kisah perjalanan sendirian, melainkan perjalanan bersama yang melibatkan pertukaran gen, pengetahuan, dan budaya yang membentuk siapa diri kita saat ini.
(dem/dem)
Addsource on Google

4 hours ago
1

















































