PIDIE JAYA (Waspada.id): Menjelang bulan suci Ramadan, ratusan warga Desa Meunasah Raya, Kecamatan Muara, Kabupaten Pidie Jaya, masih harus bertahan di tenda-tenda darurat bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hampir tiga bulan pascabencana, sekitar 500 jiwa yang terdiri atas orang dewasa, anak-anak, hingga lanjut usia masih belum memiliki hunian yang layak.
Para pengungsi memilih bertahan di tenda darurat karena keterbatasan pilihan. Tidak semua warga memiliki rumah yang masih layak huni atau kerabat yang bisa ditumpangi. Hingga kini, satu-satunya harapan mereka adalah tersedianya hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap) yang dapat segera ditempati.
Pantauan Waspada.id di lokasi pada Selasa (17/2/2026), kawasan pengungsian masih dipenuhi genangan lumpur, terutama saat hujan turun. Meski demikian, aktivitas warga tetap berjalan. Para pengungsi terlihat menyambangi mobil-mobil donatur yang masih menyalurkan bantuan hingga hari ini.
Kepala Desa Meunasah Raya, Abdul Halim Ishak, mengatakan sebagian besar warga masih memilih bertahan di tenda meskipun Ramadan sudah di depan mata. Menurutnya, kondisi ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi warga dalam menjalankan ibadah puasa.
Aktivitas warga korban bencana hidrometerologi Aceh di tempat pengsungsian di Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Muara Dua, Kabupaten Pidie Jaya pada Selasa (17/2/2026). Sehari-hari, warga masih bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan dan donasi yang disalurkan di tempat pengungsian. Waspada.id/Hulwa Dzakira“Hingga hari ini warga masih banyak yang bertahan di tenda darurat. Bantuan memang sudah cukup banyak diterima, tetapi menjelang Ramadan tentu akan lebih sulit bagi warga bertahan dalam keterbatasan seperti ini,” ujarnya.
Kondisi pengungsi semakin berat setelah dapur umum tidak lagi beroperasi. Abdul Halim menjelaskan, dapur darurat berhenti karena keterbatasan tenaga relawan yang selama ini bekerja secara sukarela.
“Tenaga memasak bersifat sukarela dan tidak digaji. Wajar jika mereka merasa jenuh. Kami tidak bisa memaksakan, tetapi kami tetap berupaya agar bantuan bahan pokok terus tersalurkan kepada masyarakat,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, sejak sepekan terakhir konsumsi warga dialihkan dengan membagikan kompor dan bahan pokok yang bersumber dari dana donasi. Langkah ini diambil agar warga dapat menyiapkan makanan sendiri tanpa bergantung pada dapur umum, terutama selama Ramadan.
“Tidak semua orang berpuasa, seperti anak-anak dan lansia. Jika dapur umum memiliki jam operasional terbatas, dikhawatirkan justru menyulitkan. Karena itu, kami memilih membagikan kompor dan bahan pokok,” jelas Abdul Halim.
Ia menambahkan, selain bantuan dari para donatur, warga juga menerima bantuan dari sejumlah instansi pemerintah, berupa sembako serta sapi untuk kebutuhan Meugang. Desa Meunasah Raya juga menerima bantuan tunai dari pemerintah pusat sebesar Rp50 juta yang telah dibelanjakan untuk tiga ekor sapi.
Namun, persoalan hunian masih menjadi masalah utama. Abdul Halim menyebutkan, pembangunan huntara untuk warga Meunasah Raya belum rampung sepenuhnya. Berdasarkan pendataan, huntara yang tersedia baru sekitar 80 unit dan belum rampung sepenuhnya, sementara kebutuhan warga mencapai lebih dari 150 unit.
“Karena itu warga belum bisa direlokasi. Harapan kami, ini menjadi perhatian serius dan jumlah huntara dapat ditambah,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Nuraini, salah seorang pengungsi. Ia mengatakan kondisi rumahnya masih sangat memprihatinkan. Bahkan, ia telah mengeluarkan dana pribadi sekitar Rp10 juta untuk membersihkan rumah dari lumpur sisa banjir.
“Namun setiap hujan, sungai kembali meluap dan lumpur dari jalan masuk lagi ke rumah. Kami sangat membutuhkan perhatian pemerintah, bukan hanya soal hunian dan bantuan makanan, tetapi juga pembersihan jalan dan aliran sungai,” katanya.
Menurut Nuraini, upaya membersihkan rumah secara mandiri akan sia-sia jika aliran sungai dan tumpukan lumpur di jalan tidak ditangani secara menyeluruh.
Kondisi perumahan warga Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie jaya pada Selasa (17/2/2026). Tampak sejumlah rumah dan jalan desa masih dipenuhi timbunan lumpur. Waspada.id/Hulwa DzakiraSaat menyinggung persiapan menyambut Ramadan dan Idul Fitri, Nuraini tak kuasa menahan air mata. Ia mengaku tidak bisa berkumpul bersama keluarga karena belum memiliki rumah untuk ditempati.
“Puasa dan lebaran ini anak saya tidak pulang, karena kami tidak punya rumah untuk pulang. Saya sendiri bahkan masih menumpang di tempat orang,” ujarnya dengan suara tercekat.
Bagi para pengungsi Meunasah Raya, Ramadan yang seharusnya menjadi momen khusyuk beribadah justru dibayangi kegelisahan. Bertahan di bawah tenda darurat, menghadapi hujan dan lumpur, serta ketidakpastian soal hunian dan pangan, menjadi beban berat yang harus mereka jalani.
“Selain dari uluran donatur dan bantuan yang ada, kami tidak tahu lagi harus berharap ke mana,” tutup Nuraini. (Hulwa)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































