Luas Panen Dan Produksi Padi Sumut 2025 Meningkat Signifikan

2 hours ago 2

MEDAN (Waspada.id): Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat kinerja sektor perberasan menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2025. Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 535,01 ribu hektare, meningkat 115,55 ribu hektare atau 27,55 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar 419,46 ribu hektare.

Statistisi Ahli Utama BPS Sumatera Utara, Misfaruddin, mengatakan bahwa peningkatan luas panen tersebut diikuti dengan pola musim panen yang relatif konsisten dibandingkan tahun sebelumnya.

“Puncak panen padi pada tahun 2025 masih terjadi pada bulan Februari, sama seperti tahun 2024. Pada Februari 2025, luas panen padi mencapai 82,76 ribu hektare, lebih tinggi dibandingkan Februari 2024 yang sebesar 67,22 ribu hektare,” ujar Misfaruddin.

Meski demikian, BPS mencatat adanya potensi perlambatan pada awal tahun 2026. Potensi luas panen padi pada periode Januari hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai 181,38 ribu hektare, atau turun sekitar 0,74 ribu hektare (0,41 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Dari sisi produksi, padi di Provinsi Sumatera Utara sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai sekitar 3,21 juta ton gabah kering panen (GKP). Angka ini meningkat 0,64 juta ton GKP atau 24,84 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang sebesar 2,57 juta ton GKP.

Produksi padi tertinggi pada 2025 terjadi pada bulan Februari dengan capaian 0,47 juta ton GKP, sementara produksi terendah terjadi pada bulan Desember yang hanya sekitar 0,12 juta ton GKP.

Sementara itu, potensi produksi padi pada periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 1,05 juta ton GKP, sedikit menurun sekitar 0,02 juta ton GKP atau 1,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika dihitung dalam bentuk gabah kering giling (GKG), produksi padi Sumatera Utara sepanjang 2025 mencapai sekitar 2,75 juta ton GKG, meningkat 0,55 juta ton GKG atau 24,84 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 2,20 juta ton GKG. Produksi GKG tertinggi juga terjadi pada bulan Februari dengan realisasi 0,40 juta ton, sedangkan produksi terendah terjadi pada bulan Desember sekitar 0,10 juta ton GKG.

Potensi produksi padi dalam bentuk GKG pada periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 0,90 juta ton, atau menurun sekitar 0,01 juta ton GKG (1,10 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara wilayah, Kabupaten Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Mandailing Natal tercatat sebagai tiga daerah dengan total produksi padi (GKG) tertinggi pada tahun 2025. Sebaliknya, produksi padi terendah tercatat di Kota Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi, dan Kabupaten Labuhan Batu Selatan.

Misfaruddin juga menyoroti adanya dinamika produksi antarwilayah. Penurunan produksi padi yang cukup besar terjadi di Kabupaten Nias Utara, Kota Tebing Tinggi, dan Kabupaten Nias Selatan. Namun, di sisi lain, beberapa daerah justru mencatat peningkatan produksi yang signifikan, antara lain Kabupaten Labuhan Batu Selatan, Kota Tanjung Balai, dan Kabupaten Mandailing Natal.

Lebih lanjut, apabila produksi padi tersebut dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka sepanjang Januari hingga Desember 2025 setara dengan 1,58 juta ton beras. Angka ini meningkat 0,31 juta ton atau 24,84 persen dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang sebesar 1,26 juta ton.

Produksi beras tertinggi pada 2025 terjadi pada bulan Februari dengan realisasi 232,15 ribu ton, sementara produksi terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 59,86 ribu ton.

“Secara umum, peningkatan luas panen dan produksi padi pada 2025 menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan di Sumatera Utara, meskipun tetap perlu diantisipasi potensi penurunan pada awal 2026,” pungkas Misfaruddin. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |