Meunasah Beung Bakjok Sediakan 200 Paket Ie Bu Peudah untuk Berbuka Selama Ramadhan

4 hours ago 4
AcehKuliner

23 Februari 202623 Februari 2026

Meunasah Beung Bakjok Sediakan 200 Paket Ie Bu Peudah untuk Berbuka Selama Ramadhan Proses memasak ie bu peudah (bubur pedas) khas Aceh di Desa Bueng Bakjok, Aceh Besar, Minggu (22/2/2026). Waspada.id/Hulwa Dzakira

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

ACEH BESAR (Waspada.id): Meunasah Gampong Beung Bakjok, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, menyediakan sekitar 200 paket makanan berbuka puasa berupa ie bu peudah setiap hari selama Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Koordinator tim penyediaan takjil Gampong Beung Bakjok, Faisal, mengatakan bubur khas Aceh tersebut dibagikan kepada masyarakat setempat maupun warga pelintas yang singgah untuk berbuka puasa di meunasah desa itu.

“Meunasah ini menyediakan ie bu peudah sebanyak 200-an paket dibagikan sebagai makanan berbuka puasa kepada masyarakat setiap hari selama Ramadhan,” kata Faisal di Aceh Besar, Minggu (22/2).

Ie bu peudah merupakan kuliner khas Aceh berupa bubur pedas yang terbuat dari beras dan dimasak dengan puluhan jenis dedaunan, rempah-rempah, serta kelapa. Menu tersebut biasanya hanya tersedia pada bulan Ramadhan.

Menurut Faisal, proses memasak dilakukan secara gotong royong. Kaum ibu bertugas meracik bumbu dan menyiapkan bahan, sedangkan kaum laki-laki memasak bubur. Petugas memasak dijadwalkan secara bergantian setiap hari, sehingga cita rasa ie bu peudah dapat berbeda-beda.

“Ie bu peudah ini hanya dimasak selama bulan puasa. Yang memasak kaum laki-laki, sedangkan peracikan bumbu kaum ibu. Yang bertugas memasak berganti-ganti setiap hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi memasak ie bu peudah saat Ramadhan telah berlangsung secara turun-temurun. Sejak sekitar 40 tahun lalu, tradisi tersebut sudah menjadi bagian dari kegiatan masyarakat setempat. Menurutnya, tradisi serupa hanya ditemukan di desa-desa wilayah Kecamatan Kuta Baro, dengan bahan-bahan yang berasal dari sumbangan warga.

Proses memasak bubur tersebut memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam setiap hari. Setelah matang, masyarakat datang mengambil dengan membawa wadah masing-masing, umumnya setelah salat Ashar. Bagi warga yang tidak membawa wadah, panitia menyediakan kantong plastik.

“Ie bu peudah ini selalu habis dibagikan setiap harinya,” kata Faisal. (Hulwa)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |