Suluk: Jalan Sunyi Menuju Pulih bagi Korban Bencana

4 hours ago 4

Usai salat Zuhur, suasana di Pesantren Darul Aman, Desa Lampuuk, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, berubah menjadi hening yang nyaris sempurna.

Di dalam sebuah ruangan sederhana, sekitar 60 jamaah duduk bersila. Mayoritas adalah para lansia yang datang dari berbagai daerah di Aceh. Tubuh mereka terbalut kain, sarung, bahkan mukena hingga menutup wajah, seolah menciptakan sekat dari dunia luar.

Tak ada suara selain helaan napas dan bisikan zikir yang dilafalkan tanpa bunyi. Kepala-kepala mereka bergerak perlahan, mengikuti ritme yang sama. Di balik kain penutup itu, masing-masing tenggelam dalam keheningan diri. Mereka tengah memasuki tawajjuh, salah satu fase penting dalam suluk, sebuah ritual batiniah dalam tradisi Tarekat Naqsyabandiyah yang telah lama hidup dan berkembang di Aceh.

Bagi masyarakat Serambi Makkah, suluk bukan sekadar rangkaian ibadah. Ia adalah jalan sunyi untuk menepi dari riuh kehidupan, membersihkan hati, sekaligus menata ulang batin yang letih. Tradisi ini telah dikenal sejak abad ke-13 Masehi dan berkembang luas di Aceh melalui dakwah para ulama, salah satunya Syekh Muda Waly Al-Khalidi. Di Dayah Darul Aman, suluk rutin digelar setiap Ramadan, terutama sejak Aceh berkali-kali diuji bencana.

Wakil pimpinan dayah, Saifullah, mengisahkan bahwa pasca tsunami, suluk semakin dirasakan maknanya oleh masyarakat. Banyak jamaah datang dengan beban kehilangan dan kecemasan yang tak mudah diurai.

“Sejak pasca tsunami, suluk terus kita laksanakan. Banyak jamaah yang merasakan ketenangan setelah mengikuti rangkaian ibadah ini,” ujarnya.

Hari-hari para peserta berjalan dalam disiplin spiritual. Sejak pukul 03.00 dini hari, mereka telah terjaga. Zikir, tasbih, dan wirid mengalir hampir tanpa putus, hanya terhenti sejenak untuk salat lima waktu, berbuka puasa, dan sahur. Sebelum memulai sulok, setiap jamaah diwajibkan mandi taubat, melaksanakan salat taubat, dan menyatakan komitmen mengikuti bimbingan mursyid. Bahkan makanan yang dikonsumsi telah ditentukan pihak pesantren, tanpa bahan dari hewan berdarah, agar ibadah dijalani dengan lebih terjaga.

“Konsumsi peserta sudah ditentukan pesantren agar mudah dikontrol dan terjaga kepastiannya,” jelas Saifullah.

Di antara para jamaah, Syahren, 76, warga Trienggadeng, menjadi salah satu yang paling setia. Sudah 11 tahun terakhir ia rutin datang setiap Ramadan. Baginya, suluk adalah ruang istirahat dari hiruk-pikuk dunia.

“Suluk di sini lebih mudah. Makanan sudah disediakan, jadi kita bisa fokus beribadah,” katanya.
Setelah setahun bergulat dengan urusan dunia, Ramadan menjadi waktu untuk kembali merapatkan diri kepada Allah.

“Setelah setahun huru-hara dengan hal dunia, saat Ramadan sudah sepatutnya saya mendekatkan diri kepada Allah secara khusyuk,” ujarnya pelan.

Aminah, 67, jamaah asal Sabang, merasakan hal serupa. Ini adalah kali kelimanya mengikuti suluk. Ia diantar anaknya ke dayah dan memilih menetap selama rangkaian ibadah berlangsung.

“Rasa fokus ibadah seperti ini sulit dicari sehari-hari. Jadi di sinilah saya sekarang,” tuturnya.

Tahun ini jumlah jamaah memang menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai 80 hingga 100 orang. Sebagian jamaah rutin dari luar daerah tak hadir, diduga terdampak bencana. Namun di saat yang sama, ada pula korban bencana yang justru memilih datang untuk bersuluk, membawa kegelisahan yang ingin mereka jinakkan.

Menurut Saifullah, suluk kerap menjadi ruang pemulihan batin bagi mereka yang terdampak musibah.

“Ini bisa menjadi rutinitas trauma healing bagi korban bencana. Supaya lebih ikhlas dan berserah diri kepada Allah,” pungkasnya.

Di ruangan yang sunyi itu, tak ada isak tangis yang terdengar. Namun di balik wajah-wajah yang tertutup kain, ada doa-doa panjang yang dipanjatkan. Ada kenangan pahit yang perlahan dilepas, ada kehilangan yang coba diikhlaskan. Dalam diam dan zikir yang tak bersuara, para jamaah menemukan cara mereka sendiri untuk pulih.

Suluk pun menjelma lebih dari sekadar tradisi tarekat. Ia menjadi jalan sunyi bagi jiwa-jiwa yang ingin berdamai dengan takdir, sebuah terapi spiritual yang tumbuh dari keyakinan.

Hulwa

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |