Jalan lintas A. Yani yang berada di inti kota sebagai salah satu ruas jalan yang pengelolaan parkirnya buruk. Waspada.id/Khalik
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
TEBINGTINGGI (Waspada.id): Pengelolaan perparkiran yang buruk di Kota Tebingtinggi dapat menghambat masuknya investor dan merusak iklim investasi. Bahkan, aksi-aksi juru parkir (Jukir) yang membuat kesal masyarakat akan berdampak pada arus transaksi masyarakat.
Hal itu ditegaskan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Muhammad Iqbal, Jumat (3/4) usai shalat Jumat di Masjid Al Mukhlis, Kel. Pasar Baru, Kec. T.Tinggi Kota.
Diuraikan Iqbal, parkir merupakan bentuk pelayanan pemerintah kota terhadap masyarakat termasuk di dalamnya investor. Sudah seharusnya pengelolaan parkir dilakukan secara profesional dan bukan dengan cara-cara premanisme.
“Kan kita rasakan sekarang ini, praktek parkir sangat meresahkan masyarakat. Harusnya jadi perhatian serius Pemko,” saran Iqbal yang juga pengurus KONI Kota Tebingtinggi ini.
Selain itu, Iqbal mengungkapkan, sudah banyak pengusaha ruko di berbagai jalan yang mengeluhkan praktek parkir bergaya preman ini.

Ruko yang banyak tutup di inti kota salah satunya akibat perparkiran yang buruk. Waspada.id/Khalik
“Mereka tak mau mengungkapkan keresahan karena berbagai faktor. Tapi akhirnya mereka menutup usahanya. Kan banyak toko yang tutup di inti kota. Salah satu penyebabnya parkir yang merusak iklim layanan usaha,” terang salah satu anggota Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) Kota Tebingtinggi itu.
Salah seorang pengusaha sektor kesehatan, juga mengeluhkan praktek parkir yang terjadi di depan usahanya. “Orang mau berobat waktu pulang harus bayar parkir 2 ribu sampai 3 ribu, padahal ketentuannya hanya seribu. Inikan bikin kesal pasien. Harusnya Pemko responsif pada masalah gini jangan anggap sepele,” keluh pengusaha yang minta identitasnya tak dimuat.
Beberapa pelaku usaha yang dihubungi menolak untuk berkomentar, namun mereka sepakat Pemko Tebingtinggi harus mengambil langkah-langkah hukum dan administrasi atas keresahan masyarakat. “Kita ingin semua bisa hidup, tapi jangan membuat resah,” ujar pengusaha cafe di Jalan Sutomo.
Mereka memberi saran agar tiga OPD, yakni Dinas Perhubungan, Satpol PP dan Dinas Perdagangan saling koordinasi serta merumuskan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah perparkiran yang buruk di kota Tebingtinggi. (Lik)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































